Paper Mata Kuliah ESDH Medan, Mei 2021
POTENSI EKONOMI SUMBERDAYA HUTAN MANGROVE DI DESA TONGKE – TONGKE KECAMATAN SINJAI TIMUR
Dosen Penanggung Jawab:
Dr. Agus Purwoko S.Hut., M.Si
Disusun Oleh :
Ultari Manalu
191201126
HUT 4C
PROGRAM STUDI KEHUTANAN
FAKULTAS KEHUTANAN
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
2021
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur kita panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas semua berkat dan karunianya penulis dapat menyelesaikan tugas mata kuliah Ekonomi Sumberdaya Hutan yang berjudul “Potensi Ekonomi Sumberdaya Hutan Mangrove di Desa Tongke – Tongke Kecamatan Sinjai Timur ” yang disusun sebagai salah satu syarat dalam penilaian mata kuliah Ekonomi Sumberdaya Hutan Fakultas Kehutanan, Universitas Sumatera Utara.
Dalam pembuatannya penulis menyadari bahwa tulisan ini belum sempurna baik dari segi penulisan, teknik penyusunan maupun dari aspek materi dan pembahasannya. Oleh sebab itu penulis sangat mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun dari para pembaca maupun pengguna tulisan ini demi penyempurnaan paper ini.
Semoga tulisan ini bermanfaat dan mengedukasi bagi setiap orang yang membacanya dan semoga setelah membaca paper ini kita semakin peduli terhadap lingkungan alam khususnya Hutan Mangrove karena hutan memiliki manfaat yang sangat melimpah bagi kehidupan.
Medan, Mei 2021
Penyusun
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Memasuki
era globalisasi, percepatan pertumbuhan ekonomi meningkatkan kebutuhan baik di
bidang pertanian, infrastruktur, kebutuhan lahan, maupun sektor lain.
Peningkatan kebutuhan tersebut menyebabkan tekanan terhadap hutan semakin
tinggi. Hutan mangrove sebagai salah satu
ekosistem hutan yang paling produktif di dunia juga mengalami tekanan yang sama.Tindakan
perluasan lahan pemukiman dan tambak di wilayah pesisir menyebabkan degradasi
hutan mangrove menjadi sangat tinggi, sebagai contoh adalah berkurangnya luasan
hutan mangrove dari tahun ke tahun, hal ini tidak terlepas dari ulah manusia
yang kurang paham akan kelestarian dan manfaat dari hutan mangrove oleh sebab itu kita harus lebih peduli terhadap lingkungan (Sabir, 2020).
Hutan
mangrove merupakan habitat yang sangat bermanfaat bagi banyak mahkluk hidup
termasuk manusia. Seperti halnya dengan hutan pada umumnya, hutan mangrove juga
berfungsi sebagai sumber produk kayu untuk bahan bangunan maupun untuk arang
dan kayu bakar. Hutan mangrove juga sebagai tempat pemijahan dan pengasuhan
ikan, kepiting, dan udang. Ini semua merupakan jasa lingkungan (environtmental
services) yang diberikan hutan mangrove. hutan mangrove merupakan
sumberdaya alam hayati yang mempunyai berbagai keragaman potensi yang
memberikan manfaat bagi kehidupan manusia baik yang secara langsung maupun
tidak langsung dan bisa dirasakan, baik oleh masyarakat yang tinggal di dekat
kawasan hutan mangrove maupun masyarakat yang tinggal jauh dari kawasan hutan
mangrove (Saprudin dan Halidah, 2012).
Manfaat
ekosistem mangrove yang berhubungan dengan fungsi fisik adalah sebagai mitigasi
bencana seperti peredam gelombang dan angin badai bagi daerah yang ada di
belakangnya, pelindung pantai dari abrasi, gelombang air pasang tsunami,
penahan lumpur, dan perangkap sedimen yang diangkut oleh aliran air permukaan,
pencegah intrusi air laut ke daratan, serta dapat menjadi penetralisir pencemaran
perairan pada batas tertentu. Secara fisik hutan mangrove menjaga garis pantai
agar tetap stabil, melindungi pantai dan tebing sungai, mencegah terjadinya
erosi laut serta sebagai perangkap zat-zat pencemar dan limbah, mempercepat
perluasan lahan, melindungi daerah di belakang mangrove dari hempasan dan
gelombang dan angin kencang; mencegah intrusi garam (salt intrution) ke
arah darat; mengolah limbah organik, dan sebagainya (Nur, 2018).
Indonesia
merupakan negara kepulauan yang memiliki wilayah pesisir yang luas, salah
satunya Kabupaten Sinjai. Kabupaten Sinjai memilki sembilan pulau kecil dengan
sebutan pulau pulau sembilan, dan memiliki garis pantai sepanjang 31 km. 17 yang terdapat di daratan dan 14 yang
terdapat di pulau pulau. Sepanjang garis pantai terdapat potensi ekosistem
mangrove seluas 1.351.50 ha yang tesebar pada tiga kecamatan pesisir dengan
persentase luas masing masing sebagai berikut yang pertama yaitu Kecamatan
Sinjai Utara seluas 254.10 ha atau sekitar 18.84%, Kecamatan Sinjai Timur seluas 947.50 atau sekitar
70.02%, dan Kecamatan Tellulimpoe seluas 150.50 ha atau 21.14% dari luas total
seluruh arealnya (Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Sinjai, 2016).
Ekosistem mangrove di Desa Tongke-tongke merupakan salah satu hutan mangrove yang terbaik di Sulawesi Selatan. Mangrove di Tongke-tongke merupakan perpaduan antara mangrove alami dan hasil rehabilitasi. Rehabilitasi hutan mangrove di Desa Tongke-tongke telah dilakukan sejak tahun 1986 oleh masyarakat desa tersebut secara swadaya. Upaya penghijauan kembali wilayah pesisir ini dilakukan oleh Kelompok Pencinta Sumber Daya Alam - Aku Cinta Indonesia (KPSDA-ACI) dan sudah terlihat tingkat keberhasilannya, dilihat dengan semakin bertambahnya jenis mangrove yang hidup dan luasnya area yang ditumbuhi mangrove sehingga sekarang dijadikan sebagai ekowisata (Hidayatullah et al., 2010).
1.2 Tujuan
1. Untuk Mengetahui Pengertian dan Manfaat dari Hutan Mangrove.
2. Untuk Mengetahui Kondisi dari Kawasan Hutan Mangrove di Desa Tongke – Tongke Kecamatan Sinjai Timur.
3 Untuk Mengetahui Potensi Kawasan Hutan Mangrove di Desa Tongke – Tongke Kecamatan Sinjai Timur Melaui Tinjauan Manfaat Langsung dan Tidak Langsungnya.
4. Untuk Mengetahui Nilai Ekonomis Kawasan Hutan Mangrove di Desa Tongke – Tongke Kecamatan Sinjai Timur
BAB II
PEMBAHASAN
2.1
Pengertian Ekosistem Mangrove
Hutan mangrove adalah hutan yang tumbuh pada tanah lumpur alluvial di daerah pantai dan muara sungai yang dipengaruhi pasang surut air laut, baik di teluk-teluk yang terlindung dari gempuran ombak, maupun di sekitar muara sungai di mana air melambat dan mengendapkan lumpur yang dibawanya dari hulu. Selain itu hutan ini tumbuh khususnya di tempat-tempat di mana terjadi pelumpuran dan akumulasi bahan organik, terdiri atas jenis-jenis pohon Avicennia, Sonneratia, Rhizophora, Bruguiera, Ceriops, Lumnitzera, Excoecari, Xylocarpus, Egiceras, Scyphyphora dan Nypa serta jenis satwa seperti ikan , kepiting, udang dan lain-lain (Nur, 2018).
Hutan
mangrove merupakan habitat yang sangat bermanfaat bagi banyak mahkluk hidup
termasuk manusia. Seperti halnya dengan hutan pada umumnya, hutan mangrove juga
berfungsi sebagai sumber produk kayu untuk bahan bangunan maupun untuk arang
dan kayu bakar. Hutan mangrove juga sebagai tempat pemijahan dan pengasuhan
ikan, kepiting, dan udang. Ini semua merupakan jasa lingkungan (environtmental
services) yang diberikan hutan mangrove. hutan mangrove merupakan
sumberdaya alam hayati yang mempunyai berbagai keragaman potensi yang
memberikan manfaat bagi kehidupan manusia baik yang secara langsung maupun
tidak langsung dan bisa dirasakan, baik oleh masyarakat yang tinggal di dekat
kawasan hutan mangrove maupun masyarakat yang tinggal jauh dari kawasan hutan
mangrove. Selain itu mangrove menyediakan lapangan kerja langsung sekitar 0,5
juta nelayan, dan sekitar 1 juta pekerjaan di seluruh dunia tergantung pada
perikanan bakau terkait, dan kepadatan penduduk tergantung pada mangrove
diperkirakan sekitar 5,6 orang per meter persegi (Karmansyah dan Ahmad
F, 2020).
Manfaat
ekosistem mangrove yang berhubungan dengan fungsi fisik adalah sebagai mitigasi
bencana seperti peredam gelombang dan angin badai bagi daerah yang ada di
belakangnya, pelindung pantai dari abrasi, gelombang air pasang tsunami,
penahan lumpur, dan perangkap sedimen yang diangkut oleh aliran air permukaan,
pencegah intrusi air laut ke daratan, serta dapat menjadi penetralisir
pencemaran perairan pada batas tertentu (Wahdaniar et al., 2018).
Manfaat lain dari ekosistem mangrove ini adalah sebagai obyek daya tarik wisata alam dan atraksi ekowisata. Ekosistem mangrove berfungsi sebagai habitat berbagai jenis satwa. Ekosistem mangrove berperan penting dalam pengembangan perikanan pantai, karena merupakan tempat berkembang biak, memijah, dan membesarkan anak bagi beberapa jenis ikan, kerang, kepiting, dan udang Bagian kanopi mangrove pun merupakan habitat untuk berbagai jenis hewan darat, seperti monyet, serangga, burung, dan kelelawar (Nur, 2018).
2.2 Fungsi Ekosistem hutan Mangrove
A. Fungsi fisik
Secara
fisik hutan mangrove menjaga garis pantai agar tetap stabil, melindungi pantai
dan tebing sungai, mencegah terjadinya erosi laut serta sebagai perangkap
zat-zat pencemar dan limbah, mempercepat perluasan lahan, melindungi daerah di
belakang mangrove dari hempasan dan gelombang dan angin kencang; mencegah
intrusi garam (salt intrution) ke arah darat; mengolah limbah organik,
dan sebagainya.
Istiyanto,
Utomo dan Suranto (2003) menyimpulkan bahwa rumpun bakau (Rhizophora)
memantulkan, meneruskan, dan menyerap energi gelombang tsunami yang diwujudkan
dalam perubahan tinggi gelombang tsunami ketika menjalar melalui rumpun
tersebut. Hasil pengujian tersebut dapat digunakan dalam pertimbangan awal bagi
perencanaan penanaman hutan mangrove bagi peredaman penjalaran gelombang
tsunami di pantai.
B. Fungsi biologis
Secara
biologi hutan mangrove mempunyai fungsi sebagai daerah berkembang biak (nursery
ground), tempat memijah (spawning ground), dan mencari makanan (feeding
ground) untuk berbagai organisme yang bernilai ekonomis khususnya ikan dan
udang. Habitat berbagai satwa liar antara lain, reptilia, mamalia, hurting dan
lain-lain. Selain itu, hutan mangrove juga merupakan sumber plasma nutfah. Daun
mangrove yang berguguran diuraikan oleh fungi, bakteri dan protozoa menjadi
komponen-komponen bahan organik yang lebih sederhana yang menjadi sumber
makanan bagi banyak biota perairan (udang, kepiting dan lainlain) (Naamin,
1990).
C. Fungsi Ekologis Hutan Mangrove
Fungsi
dan manfaat mangrove telah banyak diketahui, baik sebagai tempat
pemijahan ikan di perairan, pelindung
daratan dari abrasi oleh ombak, pelindung
daratan dari tiupan angin, penyaring
intrusi air laut ke daratan dan kandungan logam berat yang berbahaya bagi
kehidupan, fungsi lainnya adalah sebagai habitat
berbagai jenis satwa liar. Keanekaragaman
fauna di hutan mangrove cukup tinggi,
secara garis besar dapat dibagi dua
kelompok, yaitu fauna akuatik seperti ikan, udang, kerang, dan lainnya serta
kelompok terestrial seperti insekta, reptilia, amphibia, mamalia, dan burung Nirarita
etal., (1996).
D. Fungsi Ekonomi Hutan Mangrove
Secara
garis besar mangrove mempunyai beberapa keterkaitan dalam pemenuhan kebutuhan
manusia sebagai penyedia bahan pangan, papan dan kesehatan serta lingkungan.
Secara ekonomi hutan mangove yaitu:
1. Penghasil kayu, misalnya kayu bakar,
arang serta kayu untuk bahan bangunan dan perabot rumah tangga.
2. Penghasil bahan baku industry, misalnya
pulp, kertas, testil, makanan, obat-obatan, alcohol, kosmetik dan zat pewarna.
3. Penghasil bibit ikan, udang, kerang,
telur burung dan madu.
4. Sebagai objek pariwisata, karakteristik hutannya yang berada di peralihan antara darat dan laut memiliki keunikan dalam beberapa hal. Kegiatan wisata ini di samping memberikan pendapatan langsung bagi pengelola melalui penjualan tiket masuk dan parkir, juga mampu menumbuhkan perekonomian masyarakat di sekitarnya dengan menyediakan lapangan kerja dan kesempatan berusaha, seperti membuka warung makan, adapun Fasilitas lainnya yaitu gazebo, Kantor Pengelola, Mushollah, Kios dan Play Ground, Souvenir Shop, Cafetaria, Menara Pengawas, Cottage, Dermaga Wisata Perahu, Dermaga Utama, Area Pemancingan, serta area Pembibitan.
2.3 Keadaan Umum Kawasan Hutan Mangrove di Desa Tongke – Tongke Kecamatan Sinjai Timur
Kata
Tongke-Tongke kata Dasarnya adalah “Toke” Kata toke dipakai untuk panggilan
pedagang Asal China yang tinggal di Cempae kerena terkenalnya Kampung Cempae
sebagi tempat Singgahnya para toke maka orang sekitar lambat laun menyebut
kampong Toke menjadi “Tongke-Tongke” yang tidak hanya dihuni warga asal China
akan tetapi juga Suku Bugis. Karena letak geografis dan kondisi alamnya yang
strategis sehingga tentara Jepang menjadikan Tongke-Tongke menjadi basis
pertahanan terutama di daerah Bentengnge oleh tentara Jepang menjadikan pos
pertahanan dan membentuk tentara HEIHO, kekalahan Jepang terhadap sekutu
sehingga mengungsi ke manipi.
Kawasan
mangrove yang terletak di Kabupaten Sinjai secara geografis terletak antara 500
119’ 50” Lintang Selatan (LS) sampai 5o 36’ 47” dan antara 1190 48’
30” Bujur Timur (BT) sampai 1200 10’ 00” Bujur Timur (BT).Total luas
wilayahnya sekitar 819,96 KM2 dengan panjang garis pantai sekitar 24
Km berada di wilayah Teluk Bone. 15% dari luasan wilayah tersebut adalah
dataran rendah yang tumbuhi hutan mangrove 786 Ha. Salah satu daerah di Sulawesi
Selatan yang masih memiliki hutan mangrove yang cukup luas terdapat di desa
tongke-tongke kecamatan Sinjai Timur Kabupaten Sinjai.Kecamatan Sinjai Timur
memliki luas 4,7 km2 yang terdiri dari 5 dusun meliputi Dusun Babana, Dusun
Baccara, Dusun Bentengnge, Dusun Campae dan Dusun Maroangin.dan secara umum
merupakan kawasan konservasi hutan mangrove dengan luas kurang lebih 326,612
hektar. (Dinas lingkungan hidup dan kehutanan)
Adapun
penyebaran luas hutan mangrove di Desa Tongke-tongke Kecamatan Sinjai Timur
seperti pada tabel 1. Dibawah ini:
|
No |
Nama Lokasi |
Desa/ Kelurahan |
Luas (Ha) |
|
1 |
Bentenge |
Ds. Tongke – tongke |
37.50 |
|
2 |
Cempae |
Ds. Tongke – tongke |
60.00 |
|
3 |
Babana |
Ds. Tongke – tongke |
35.00 |
|
4 |
Maroangiang |
Ds. Tongke – tongke |
15.00 |
|
5 |
Baringeng |
Ds. Panainang |
36.50 |
|
6 |
Karosi |
Ds. Panainang |
20.00 |
|
7 |
Passahakue |
Ds. Pasimarannu |
20.50 |
|
8 |
Marana |
Ds. Pasimarannu |
15.00 |
|
9 |
Takkalala |
Ds. Sanjai |
11.50 |
|
10 |
Ujung kupang |
Ds. Sanjai |
15.50 |
|
Jumlah |
266.50 |
||
Sumber:
Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Kabupaten Sinjai 2016.
2.4 Kondisi
Hutan Mangrove di Desa Tongke
– Tongke Kecamatan Sinjai Timur
Hutan
Mangrove yang berada di desa Tongke-tongke seluas 780 ha. Sekarang hutan
mangrove yang berada di Desa ini dengan kondisi yang baik . Mangrove yang ada
di desa Tongke-tongke Kecamatan Sinjai Timurdi Kabupaten Sinjaiadalah mangrove
yang tumbuh alami sepertiAvicenia sp., Nipa fructicans, dan Rhyzophora
sp. Menurut salah seorang tokoh masyarakat yang bernama Nurdin mengatakan
bahwa mangrove (bakko) awalnya di tanam di belakang rumah penduduk untuk
pelindung gempuran ombak dan angin kencang. Benih mangrove diperoleh dari laut
lepas ketika mereka melaut, kemudian dibawa untuk ditanam, adapun penanaman
dilakukan di belakang rumah, pinggir empang, dan bibir pantai.
Adapun 3 hambatan yang terjadi pada hutan
mangrove adalah sebagai
berikut:
1. Manusia
Jika
manusia tidak sadar akan manfaat pentingnya hutan mangrove yang ada di Desa
Tongke-tongke, hal ini akan berdampak pada kelangsungan hidup masyarakat
sendiri di masa yang akan datang.
2. Abrasi
Abrasi adalah proses pengikisan pantai oleh
tenaga gelombang laut dan arus laut yang bersifat merusak. Abrasi biasanya
disebut juga erosi pantai. Kerusakan garis pantai akibat abrasi ini dipacu oleh
terganggunya keseimbangan alam.
3. Tiram
Tiram
yang melekat pada akar hutan mangrove merupakan hambatan yang besar bagi
pertumbuhan mangrove, karena tiram yang tumbuh pada akar mangrove akan membuat
kulit pada akar mengelupas dan akar tersebut menjadi kering
2.5 Manfaat Hutan Mangrove Kawasan Hutan
Mangrove di Desa Tongke – Tongke Kecamatan Sinjai Timur
Perhitungan nilai ekonomi sumberdaya hutan mangrove adalah suatu upaya melihat manfaat dan biaya dari sumberdaya dalam bentuk moneter yang mempertimbangkan lingkungan.Wilayah pesisir memiliki nilai ekonomi tinggi, namun terancam keberlanjutannya. Dengan potensi yang unik dan bernilai ekonomi tadi maka wilayah pesisir dihadapkan pada ancaman yang tinggi pula, maka hendaknya wilayah pesisir ditangani secara khusus agar hutan mangrove di Desa Tongke-tongke ini dapat dikelola secara berkelanjutan. Hutan mangrove yang dahulu dianggap sebagai hutan yang kurang mempunyai nilai ekonomis, ternyata merupakan sumberdaya alam yang cukup berpotensi besar sebagai sumber penghasil devisa serta sumber mata pencaharian bagi masyarakat Desa Tongke-tongke.
Adapun
pemanfaatan hutan mangrove Desa Tongke-tongke Kecamatan Sinjai Timur sebagai
berikut:
A.
Manfaat langsung
Berdasarkan
hasil penelitian yang diperoleh dari hasil wawancara dan pengisian kuesioner
dengan responden, dapat diidentifikasikan manfaat langsung dari hutan mangrove
Desa Tongke-tongke yang dirasakan masyarakat untuk saat ini adalah pemanfaatan
potensi kayu bakar, penangkapan ikan,penangkapan kepiting dan udang.
1. Potensi Kayu
Bakar
Pengambilan
kayu bakar yang dilakukan oleh
masyarakat adalah kayu-kayu yang sudah
kering yang terdapat pada hutan mangrove dan di jual dengan harga Rp. 2.500 per
ikat, dengan rata-rata pengambilan 3 ikat/hari. Dalam setahun kayu bakar yang
dihasilkan mangrove dapat mencapai kurang lebih 1.095 ikat/tahun, jadi
pendapatan rata-rata mastayarakat pencari
kayu bakar yaitu sebanyak Rp. 2.737.000/tahun. Nilai manfaat kayu bakar didapat
oleh masyarakat desa tongke - tongke ini
dihasilkan dengan cara mengalikan harga jual kayu per ikat dengan banyaknya
kayu bakar yang dihasilkan.
2. Penangkapan Ikan
Dalam
melakukan penangkapan ikan menggunakan berbagai peralatan seperti pancing, jala
dan perangkap ikan. Berdasarkan hasil wawancara terhadap responden pada tahun
2018 yang dilakukan oleh peneliti, diperoleh jumlah total tangkapan ikan sepat,
mujair, cakalang, dan layang, sebesar 4.704 kg/tahun. Nilai
manfaat nelayan yang menangkap ikan sebesar
Rp.106.680.000. Diketahui pada tahun 2018 jumlah nelayan yang ada di Desa Tongke-tongke
adalah 563 orang. Penjumlahan manfaat dari tangkapan ikan
di bagi dengan 20 Responden untuk memperoleh nilai rata-rata (mean)dikalikan
dengan total seluruh nelayan yang ada di desa Tongke-tongke sehingga di peroleh
nilai manfaat total dari tangkapan ikan sebesar Rp. 3.003.042.000,
3. Penangkapan Kepiting
Masyarakat
Desa Tongke-tongke menangkap kepiting menggunakan Alat tangkap bubu atau yang
sering disebut dakbang oleh masyarakat sekitar. Berdasarkan hasil wawancara
terhadap responden oleh peneliti, diperoleh total ekonomi dari nangkapan
kepiting adalah sebesar 1.982 kg/tahun. Nilai manfaat pencari kepiting sebesar
Rp 49.550.000/tahun.Jumlah Pencari kepiting di Desa Tongke-tongke sebanyak 9
orang (Kantor Desa Tongke-tongke,2018).
Penjumlahan manfaat dari penangkap kepiting dibagi dengan 7 responden untuk memperoleh nilai rata-rata (mean), dikalikan dengan total seluruh penangkap kepiting di Desa Tongke-tongke sehingga diperoleh nilai manfaat total dari manfaat langsung penangkapan kepiting sebesar Rp.368.085.714/tahun.
4. Penangkapan Udang
Udang memiliki nilai ekonomi yang sangat tinggi sehingga masyarakat Desa Tongke-tongke memanfaatkan lahan tambak untuk menangkap udang, salah satunya bapak Suhardi beliau mengatakan bahwa:
“Saya
salah satu dari 8 orang yang memiliki tambak udang di Desa Tongke-tongke, saya
biasanya hanya mendapatkan 3 kg udang per hari dari hasil tambak karena produksi
udang berfluktuasi, tidak banyak ditemukan karena, musim udang biasanya jatuh
pada bulan Maret sampai Mei. Adapun biaya yang saya keluarkan adalah sebesar
Rp. 38.000 sampai Rp. 40.000/hari, itu saya gunakan untuk membeli rokok, dan biayamakanan”.(Wawancara
21 Oktober 2018).
Nilai manfaat langsung yang diperoleh dari menangkap udang adalah Rp. 35.000/kg, hasil dari penangkapan udang perhari adalah 3 kg, jadi yang dihasilkan pertahun adalah 1095 kg, pendapatan kotor dari penangkapan udang adalah sebesar Rp. 38.325.000/tahun, dan biaya yang digunakan adalah Rp. 14.000.000/tahun, jadi pendapatan bersih dari manfaat langsung penangkapan udang adalah Rp. 24.325.000/tahun.
B.
Manfaat tidak langsung
1. Penahan Abrasi
Manfaat
tidak langsung dari ekosistem mangrove sebagai penahan abrasi, yang berada di
daerah pesisir juga berfungsi sebagai pemecah gelombang atau mengurangi daya
gempuran gelombang pada bibir pantai. Diduga melalui pendekatan estimasi biaya
pengganti (replacement cost),Menurut data Dinas Pekerjaan Umum
Kabupaten Sinjai(2018) untuk membuat bangunan pemecah gelombang dengan ukuran
37,5m x 2m x 2,5m (p x l x t) dengan daya tahan 5 tahun diperlukan sebesar Rp.
265.727.775 atau sekitar Rp. 7.086.074 per meter. Panjang garis pantai yang
dilindungi hutan mangrove di Desa Tongke-tongke yaitu seluas 7.530 meter. Hal
ini dikarenakan bangunan tersebut sudah dapat menggantikan fungsi dari hutan mangrove
sebagai pemecah gelombang di sepanjang garis pantai Desa Tongke-tongke, yaitu
sebesar Rp.53.358.137.220, nilai tersebut kemudian dibagi 5 guna mendapatkan
nilai pertahunnya,dan manfaat tidak langsung dari penahan abrasi adalah sebesar
Rp. 10.671.627.444/tahun di desa Tongke-tongke.
2. Penahan Intrusi
Air Laut
Manfaat
langsung dari ekosistem mangrove sebagai penahan intrusi air laut diperoleh
dari pendekatan akankebutuhan air bersih masyarakat desa Tongke-tongke. Dengan
asumsi jika hutan mangrove dihilangkan, maka masyarakat akan kesulitan air bersih
karena fungsi dari hutan mangrove untuk menahan intrusi air laut telah hilang.
Seperti yang kita ketahui air laut memiliki kadar garam yang tinggi dan
menjadikan air tersebut tidak layak untuk dikonsumsi manusia. Dengan demikian
perhitungannya didekati dengan penggunaan air tawar yang bersih sesuai
kebutuhan masing-masing setiap keluarga tiap hari.
Untuk Desa Tongke-tongke sendiri dengan jumlah
kepala keluarga 968, di mana satu keluarga hanya membutuhkan 1 galon air/hari
untuk kebutuhan air minum dan memasak dengan harga 1 galon air tawar bersih Rp.
4000. Hasil perhitungan diperoleh biaya yang harus dikeluarkan oleh satu
keluarga pertahunnya adalah Rp. 1.460.000, dengan kata lain untuk setiap kepala
rumah tangga di Desa Tongke-tongke biaya yang dikeluarkan untuk air tawar
bersih adalah sebesar Rp. 1.413.280.000/tahun.
3. Nilai Pariwisata
Nilai
manfaat tidak langsung untuk manfaat mangrove sebagai nilai pariwisata
diperoleh dari pendekatan akan pendapatan masyarakat yang berjualan (kafe
terapung) di kawasan hutan mangrove, adapun hasil wawancara dan pengisian
kuesioner oleh responden, peneliti
mendapat hasil pendapatan responden kurang lebih Rp. 250.000/hari.
Seperti yang dijelaskan oleh ibu Hartini bahwa:
“saya biasanya hanya mendapatkan Rp.250.000/hari,
itupun saya dapatkan tergantung dari jumlah pengunjung yang mampir di kafe saya
untuk memesan makanan dan minuman”. (wawancara 18 Oktober 2018).
Pendapatan responden yang memanfaatkan hutan mangrove sebagai nilai pariwisata selama setahun mencapai Rp. 91.250.000/tahun. Adapun biaya yang responden keluarkan adalah sebesar Rp. 35.000.000/tahun, maka pendapatan total yang responden dapatkan dari berjualan di kafe terapung di kawasan hutan mangrove adalah Rp. 56.250.000/tahun.
2.6 Nilai Ekonomis Kawasan Hutan Mangrove di Desa Tongke – Tongke Kecamatan Sinjai Timur
Dari manfaat langsung dan tidak langsung dari kawasan hutan mangrove di desa Tongke – Tongke dari hal tersebut dapat kita simpulkan manfaat ekonomisnya dari manfaat langsungnya yaitu dari pemanfaatan kayu bakar mencapai Rp. 2.737.000/tahun, penangkapan ikan sebesarRp.300.304.2000/tahun, hal ini menandakan bahwa 93% masyarakat Desa Tongke-tongke berprofesi sebagai nelayan, penangkapan kepiting sebesar Rp.24.500.000/tahun, dan penangkapan udang sebesar Rp. 24.325.000/tahun, sedangkan nilai manfaat tidak langsung hutan mangrove sebagai penahan abrasi adalah yang memiliki nilai paling tinggi yaitu senilai Rp. 10.671.627.444/tahun, manfaat mangrove sebagai penahan intrusi air laut sebesar Rp. 1.413.280.000/tahun dan nilai ekonomis dari manfaat tidak langsung yaitu dari nilai pariwisata hutan mangrove adalah Rp. 56.250.000/tahun, sedangkan nilai ekomomis manfaat total dari manfaat langsung dan manfaat tidak langsung hutan mangrove yang berada di kawasan pesisir desa Tongke-tongke Kecamatan Sinjai Timur mencapai Rp. 12.206.919.444/tahunnya, ini membuktikan bahwa manfaat tidak langsung dari hutan mangrove lebih besar di bandingkan manfaat langsung.
KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan
1.
Hutan mangrove adalah hutan yang tumbuh
pada tanah lumpur alluvial di daerah
pantai dan muara sungai yang dipengaruhi pasang surut air laut, baik di
teluk-teluk yang terlindung dari gempuran ombak, maupun di sekitar muara sungai
di mana air melambat dan mengendapkan lumpur yang dibawanya dari hulu.
2.
Kawasan mangrove yang terletak di kabupaten
sinjai secara geografis terletak antara 500 119’ 50” lintang selatan
(ls) sampai 5o 36’ 47” dan antara 1190 48’ 30” bujur timur (bt)
sampai 1200 10’ 00” bujur timur (bt).total luas wilayahnya sekitar
819,96 km2 dengan panjang garis pantai sekitar 24 km berada di
wilayah teluk bone.
3.
Manfaat langsung dari hutan mangrove desa
tongke-tongke yang dirasakan masyarakat untuk saat ini adalah pemanfaatan
potensi kayu bakar, penangkapan ikan,penangkapan kepiting dan udang.
4.
Manfaat tidak langsung dari hutan mangrove desa
tongke-tongke yaitu penahan abrasi, penahan
intrusi air laut, dan nilai pariwisatanya.
5.
Manfaat tidak langsung hutan mangrove yang
berada di kawasan pesisir desa tongke-tongke kecamatan sinjai timur mencapai Rp.
12.206.919.444/tahunnya, hal ini
membuktikan bahwa manfaat tidak langsung dari hutan mangrove lebih besar
di bandingkan manfaat langsung yaitu
sebesar Rp. 56.250.000/tahun
Saran
Sebagai
masyarakat kita harus lebih peduli terhadap alam terutama lingkungan sekitar
kita seperti yang telah kita ketahui manfaat langsung dari kawasan hutan
mangrove desa tongke-tongke yang telah dirasakan masyarakat seperti pemanfaatan
potensi kayu bakar, penangkapan ikan,penangkapan kepiting dan udang dan manfaat
tidak langsung yaitu penahan abrasi, penahan
intrusi air laut, dan nilai pariwisatanya memberikan begitu banyak keuntungan
bagi kehidupan kita oleh sebab itu untuk tetap mempertahankannnya kita harus
tetap menjaga lingkungan agar tetap lestari.
DAFTAR PUSTAKA
Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Sinjai. 2016.
Halidah, Saprudin, Chairil A. 2008. Potensi dan Ragam Pemanfaatan Mangrove Untuk Pengelolaannya di Sinjai Timur, Sulawesi Selatan. Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam, 5(1):67-78.
Hidayatullah, Slamet T, Mukti A. 2010. Pengembangan Ekowisata Hutan Mangrove Tongke – Tongke Kabupaten Sinjai, Kecamatan Sinjai Timur (Studi Kasus : Kelurahan Tongke-Tongke, Kecamatan Sinjai Timur, Kabupaten Sinjai). Jurnal Biotek, 1(2):1-10.
Karmansyah, Ahmad F. 2020. Kontribusi Wisata Hutan Mangrove Tongke – Tongek Terhadap Pendapatan Asli Daerah Sektor Pariwisata Kabupaten Sinjai. Jurnal Akmen, 17(1):163-171.
Nur Ra.
2018. Valuasi Ekonomi Sumber Daya Hutan Mangrove di Desa Tongke – Tongke Kecamatan
Sinjai Timur. Skripsi. Tidak Diterbitkan. Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam.
Universitas Islam Negeri Alauddin: Makassar.
Raman, Ihyani M, Hamrun. 2015. Kemitraan Pemerintah Daerah Dengan Kelompok Masyarakat Dalam Pengelolaan Hutan Mangrove di Desa Tongke-Tongke Kabupaten Sinjai. Jurnal Ilmu Pemerintahan, 5 (2):189-201.
Sabir M. 2020. Strategi Pengembangan Ekowisata Mangrove Tongke-Tongke di Kabupaten Sinjai. Jurnal Industri Pariwisata, 3(1):53-60.
Saprudin, Halidah. 2012. Potensi dan Nilai Manfaat Jasa Lingkungan Hutan Mangrove di Kabupaten Sinjai Sulawesi Selatan. Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam, 9(3):213-219.
Wahdaniar, Jafron Wh, Fuad M. 2018. Struktur dan Keanekaragaman Komunitas Mollusca di Kawasan Hutan Mangrove Tongke- Tongke Kabupaten Sinjai Sulawesi Selatan. Jurnal Biotek, 6(2):51-60.
https://www.celebes.co/hutan-mangrove-tongke-tongke
https://maupa.co/ekowisata-berbasis-konservasi-mangrove-desa-tongke-tongke-sinjai/
https://images.app.goo.gl/7U7DT2QLrig2rVfDA.




Wah sangat informatif ��
BalasHapusMANTAAABS👉💯💯💯💯🤗🤗
BalasHapusTerimakasih atas informasinya.
BalasHapusSangatlah bermanfaat 👍👍👍
Informasi yang sangat baik.
BalasHapusCreative and Motivational.
Mantap
BalasHapusLuar biasa
BalasHapusInformasinya sangat bermanfaat
Makasihh 👍👍👍
Luar biasa👍👍👍
BalasHapusInformasinya luar biasa...
BalasHapusGasssssss ..!!!
Kira kira kak manfaat langsung dan tidak lngsung ini apakah sewaktu-waktu bisa habis dan bhkan sulit untuk ditemukan? Apabila hal tersebut terjadi kira kira apa pemecahan masalahnya kak? Terimakasih
BalasHapusSemangat
BalasHapus👍👍
BalasHapusSangat informatif. Lanjutkan
BalasHapusInformatif baanget
BalasHapusSemangat terus buat penulis..