Laporan
Praktikum Ekonomi Sumberdaya Hutan Medan, Maret 2021
MENANAM POHON BERNILAI EKONOMI TINGGI
Dosen Penanggungjawab :
Dr. Agus Purwoko, S.Hut., M.Si.
Disusun :
Gopin Sahputra Pasaribu 191201047
Denise Angelina E.Siburian 191201052
Sri Meliana Saragih 191201109
Bayu Nur Prasetyo 191201110
Ultari Manalu 191201126
Hamdan Christian P. Sitompul 191201202
Syahli Murdami Pasaribu 191201203
Kelompok 2
HUT 4 C
PROGRAM STUDI KEHUTANAN
FAKULTAS KEHUTANAN
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
2021
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur penulis ucapkan kehadirat Tuhan Yang Maha
Esa, yang telah memberikan rahmat dan karunia-Nya sehingga penulis dapat
menyelesaikan penulisan laporan praktikum ekonomi sumber daya hutan yang berjudul
“Menanam Pohon Bernilai Ekonomi Tinggi” ini dengan baik dan tepat waktu.
Laporan praktikum ekonomi sumberdaya hutan ini disusun untuk memenuhi salah
satu tugas praktikum ekonomi sumberdaya hutan dan sebagai salah satu syarat
masuk praktikum ekonomi sumberdaya hutan,
Program Studi Kehutanan, Fakultas
Kehutanan, Universitas Sumatera Utara.
Dalam penyelesaian laporan ini, penulis mendapatkan
bantuan dari berbagai pihak. Oleh sebab itu penulis mengucapkan terimakasih
yang besar kepada Dr. Agus Purwoko, S.Hut., M.Si. selaku dosen pembimbing mata
kuliahEkonomi sumberdaya hutan, yang telah mengajarkan materi praktikum dengan
baik begitu juga dengan asisten
praktikum ekonomi sumberdaya
hutan yang telah membantu penulis dalam melaksanakan praktikum yang hasilnya
kemudian dituangkan dalam laporan ini.
Penulis sadar,penulisan laporan ini masih jauh dari kata
sempurna, baik dari segi teknik maupun materi. Oleh sebab itu, penulis sangat
mengaharapkan kritik dan saran dari para pembaca demi penyempurnaan laporan praktikum
ekonomi sumberdaya hutan ini. Akhir kata, semoga laporan praktikum ekonomi sumberdaya hutan ini bermanfaat bagi
kita semua.
Medan, Maret 2021
Penulis
Belakang.................................................................................. 1
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Kegiatan penanaman merupakan
kegiatan inti dari budidaya hutan. Hutan yang mencakup areal yang luas,
memerlukan biaya yang besar sehingga diperlukan keterampilan yang cukup.
Kegiatan penanaman meliputi pemilihan jenis, persiapan lapangan, pemasangan
ajir, pembuatan lubang tanam, pengangkutan bibit, penanaman, penyulaman serta
pemeriksaan pekerjaan dan evaluasi penanaman. Kegiatan penanaman mempunyai
beberapa macam tujuan diantaranya untuktujuan penanaman rutin, penanaman
pengayaan juga mempunyai tujuan untuk medapatkan tegakan yang sehat serta
memiliki persediaan tanaman yang cukup dimasa mendatang. Satu pohon memiliki
sejuta manfaat bagi kelangsungan hidup
berbagai makhluk hidup. Namun, beberapa tahun belakangan ini pesatnya
pembangunan menyebabkan banyak pohon ditebang dan dikorbankan. Pohon yang
ditebang menyebabkan panas bumi meningkat, jumlah pasokan oksigen semakin
berkurang dan tingkat polusi udara cenderung meningkat. Penghijauan memiliki
beberapa manfaat diantaranya sebagai paru-paru kota di mana pada pertumbuhannya
menghasilkan oksigen yang sangat diperlukan bagi kehidupan makhluk hidup (Lanny et al., 2019).
Secara umum, ada beberapa faktor
yang perlu diperhatikan dalam pemilih jenis pohon. Yaitu, tujuan penanaman,
kecocokan jenis dengan tempat tumbuhnya, ketersediaan bibit yang akan ditanam,
dan penguasaan teknik budidaya agar pohon mempunyai nilai ekonomi yang tinggi
setelah dipanen. Kesesuaian jenis pohon dengan tempat tumbuhnya memungkinkan
Pohon akan tumbuh secara optimal. Hal ini dapat memberikan dampak positif
terhadap lingkungan, baik berkenaan dengan nila ekonomi, perlindungan dan
konservasi tanah maupun pengaturan tata air. Salah satu aspek penting yang
perlu mendapatkan perhatian dalam rencana penanaman pohon adalah ketersediaan
jenis tanaman yang akan ditanam. Jenis tanaman yang dimaksud harus memenuhi
persyaratan sebagai berikut: 1) Pohon yang akan ditanam, dapat menjamin
ketersediaan bahan baku kayu yang diperlukan oleh industri perkayuan yang
didukungnya. 2) Persyaratan tempat tumbuhnya sesuai dengan kondisi tempat tumbuh
pada lahan yang disediakan
supaya tanaman dapat tumbuh. 3)
Mengetahui teknik budidaya dan menguasai dengan mudah dalam melaksanakan
pembudidayaannya (Sri Wilarso, 2006).
Pengolahan tanah dilakukan dengan
tujuan agar bibit yang ditanam memperoleh media tumbuh yang baik, sehingga
tumbuhnya menjadi optimal. Ada beberapa Metode pengolahan tanah, yaitu;
pengolahan tanah secara mekanis dengan menggunakan mesin-mesin traktor, dan
pengolahan tanah secara manual, dengan menggunakan tenaga manusia dan peralatan
yang sederhana. Pengolahan tanah dilakukan dua kali yaitu Gebrus I untuk
membalikkan tanah dan Gebrus II untuk menghaluskan tanah hingga siap untuk
ditanami (Carolina et al., 2015).
Nilai ekonomi adalah nilai suatu barang atau jasa jika
diukur dengan uang. Jadi nilai ekonomi hasil hutan dapat juga diartikan sebagai
nilai harga hasil hutan yang dimanfaatkan yang dapat ditukarkan dengan uang.
Penilaian ekonomi sumber daya hutan adalah suatu metode atau teknik untuk
mengevaluasi nilai uang dari barang atau jasa yang diberikan oleh suatu kawasan
hutan. Dalam melakukan penilaian ekonomi
suatu barang atau jasa dapat dilakukan dengan beberapa metode yaitu metode
metode nilai pasar, metode nilai relatif, dan metode biaya pengadaan. Metode nilai
pasar digunakan jika barang atau jasa tersebut sudah memiliki nilai pasar.
Nilai pasar adalah harga barang atau jasa yang telah ditetapkan penjual dan
pembeli (Carolina et al., 2015).
1.2
Rumusan
Masalah
1.2.1 Apa pengertian
pohon?
1.2.2 Apa pengertian menanam?
1.2.3 Apa saja teknik yang dilakukan dalam menanam
1.2.4 Apa saja jenis-jenis pohon yang bernilai tinggi dan
apa produk yang dihasilkan ?
1.3
Tujuan
1.3.1 Untuk
mengetahui pengertian pohon
1.3.2 Untuk mengetahui pengertian menanam
1.3.3 Untuk mengetahui teknik yang dilakukan dalam menanam
1.3.4 Untuk mengetahui jenis-jenis pohon yang bernilai
tinggi dan apa produk yang dihasilkan
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pohon
Dalam botani, pohon adalah tumbuhan menahun dengan batang yang tumbuh memanjang, mendukung cabang dan daun pada sebagian besar spesies. Dalam beberapa penggunaan, definisi pohon mungkin lebih sempit, biasanya hanya mengacu pada tanaman berkayu dengan pertumbuhan sekunder, tanaman yang dapat digunakan sebagai kayu, atau tanaman yang tumbuh hingga ketinggian tertentu. Dalam definisi yang lebih luas, palem, pakis, pisang, dan bambu juga termasuk jenis pohon. Pohon bukanlah kelompok taksonomi tetapi mencakup berbagai spesies tumbuhan yang mengembangkan batang dan cabang sebagai cara untuk menjulang di atas tumbuhan lain demi bersaing mendapatkan sinar matahari. Pohon cenderung berumur panjang, beberapa pohon bisa hidup hingga beberapa ribu tahun. Pohon telah tumbuh di Bumi setidaknya selama 370 juta tahun. Diperkirakan terdapat sekitar tiga triliun pohon dewasa di dunia.
Pohon biasanya memiliki banyak
cabang sekunder yang ditopang oleh batangnya dari tanah. Batang ini biasanya
mengandung jaringan kayu untuk kekuatan, dan jaringan pembuluh untuk membawa
zat nutrisi dari satu bagian pohon ke bagian lain. Pada kebanyakan pohon,
pembuluh ini dikelilingi oleh lapisan pepagan (kulit kayu) yang berfungsi
sebagai penghalang dan pelindung. Di bawah tanah, akar bercabang dan menyebar
luas; akar berfungsi untuk menambatkan pohon dan menyerap air, kelembapan dan
nutrisi dari tanah. Di atas tanah, cabang-cabangnya terbagi menjadi cabang,
ranting dan pucuk yang lebih kecil. Pucuk biasanya menghasilkan daun, yang
menangkap energi cahaya dan mengubahnya menjadi gula melalui fotosintesis,
menyediakan makanan untuk pertumbuhan dan perkembangan pohon.
Pohon biasanya berkembang biak dengan menggunakan biji.
Bunga dan buah juga umum ditemui, tetapi beberapa pohon, seperti tumbuhan
runjung, memiliki kerucut serbuk sari dan kerucut biji alih-aluh bunga dan
buah. Palem, pisang, dan bambu juga menghasilkan biji, tetapi pohon pakis
menghasilkan spora. Pohon memainkan peran penting dalam mengurangi erosi dan
menjaga iklim. Pohon menghilangkan karbon dioksida dari atmosfer dan menyimpan
karbon dalam jumlah besar pada jaringannya. Pohon dan hutan menyediakan habitat
bagi banyak spesies hewan dan tumbuhan. Hutan hujan tropis adalah salah satu
habitat dengan keanekaragaman hayati paling banyak di dunia. Pohon menyediakan
keteduhan dan tempat tinggal bagi banyak spesies, kayu untuk konstruksi, bahan
bakar untuk memasak dan pemanas, buah untuk bahan makanan serta banyak kegunaan
lain. Di beberapa bagian dunia, hutan menyusut karena pohon ditebangi untuk
meningkatkan jumlah lahan yang tersedia untuk pertanian. Karena umur panjang
dan kegunaannya, pohon serung dianggap sakral, banyak ditemui hutan larangan
atau hutan suci dalam berbagai budaya. Pohon juga merupakan tema umum dalam berbagai
mitologi dunia.
2.2 Menanam
Maksud dilaksanakan penanaman pohon
ini adalah untuk meningkatkan kepedulian dari berbagai pihak akan pentingnya
penanaman dan pemeliharaan pohon yang berkelanjutan dalam mengurangi dampak
pemanasan global dan untuk mencapai Pembangunan Indonesia yang hijau (Green
Development Mechanism). Tujuan dari pada Penanaman pohon ini adalah :
Mengurangi dampak pemanasan Global, meningkatkan absorbsi gas co2 , so2 dan
polutan lainny mencegah banjir, kekeringan dan tanah longsor, eningkatkan upaya
konversi sumberdaya genetik tanaman hutan dan meningkatkan kesadaran masyarakat
untuk menanam dan memelihara tanaman.
Penanaman
adalah cara kita menanam, menanam benih secara langsung atau pindah tanam
bibit. Saat menanam benih secara langsung, hal-hal yang harus diperhatikan
adalah bagaimana ketahanan benih tersebut. Umumnya, benih yang ditanam langsung
adalah benih yang daya hidupnya tinggi, dan ukurannya sedang hingga besar. Daya
hidup tinggi yang dimaksud adalah tanaman yang mudah dan cepat tumbuh. Umumnya,
tanaman-tanaman yang dapat tumbuh 2-7 hari setelah semai/tanam. Ukuran benih
yang besar juga memudahkan kita untuk mendeteksi benih ketika gagal tumbuh.
Jika ukuranya kecil atau halus, kita akan kesulitan mendeteksi karena ada kemungkinan
benih terbawa air.
2.3 Teknik yang Dilakukan dalam Menanam
Hal-hal yang mempengaruhi keberhasilan penanaman antara
lain :Pemilihan jenis pohon yang tepat; Penggunaan benih dan bibit yang unggul;
Kesesuaian tempat tumbuh; Kesesuain musim tanam; Teknik menanam yang benar;
Pola tanam; Aman dari gangguan, dan Pemeliharaan yang baik.
2.3.1
Cara Penanaman
Berbeda-bedanya
kondisi lahan (kelerengan, ketinggian tempat, penutupan vegetasi, pola
penggunaan lahan, kesuburan tanah, kepekaan erosi, dan tujuan penanaman)
nantinya memerlukan Cara, Sistem, dan Pola Tanam yang berbeda.
·
Pada lahan terbuka dan datar penanaman dilakukan dengan cara: baris dan
larikan tanaman lurus atau tanaman jalur dengan pola tumpangsar. Pada lahan
terbuka dan miring, jalur penanaman mengikuti arah konturPada lahan terbuka dan
miring, jalur penanaman mengikuti arah kontur
·
Pada lahan bervegetasi jarang (200 - 500 pohon/ha), penanaman dilakukan
dengan cara sisipan atau sebagai batas lahan/kebun.
2.3.2
Sistem Penanaman
·
Sistem Cemplongan: Pengolahan tanah hanya dipiringan di sekitar lobang
tanaman. Sistem ini cocok pada lahan-lahan yang miring dan peka terhadap erosi.
·
Sistem Jalur: Pembuatan lubang tanam dan pembersihan lapangan sepanjang
jalur tanaman. Teknik ini dapat diterapkan di lahan datar dan lereng bukit.
·
Sistem Tunggal: teknik ini dilaksanakan dengan tanpa olah tanah, lubang
tanaman dibuat dengan tugal, dan cocok untuk pembuatan tanaman dengan penaburan
benih langsung, lahan dengan kemiringan cukup tinggi, tanahnya subur, dan peka
erosi.
2.3.3
Pola Penanaman
Terdapat
dua pola penanaman, yaitu sejenis (monokultur) dan campuran/ tumpangsari.
·
Pola Monokultur: merupakan pola penanaman hanya satu jenis tanaman tahunan
pada suatu lahan.
·
Pola Tumpangsari (Campuran): merupakan pola penanaman
antara tanaman umur panjang dan tanaman semusim pada satu lahan yang sama.
2.4 Jenis Pohon yang Bernilai Ekonomis Tinggi
dan Produk yang Dihasilkan
1.
Pinus (Pinus merkusii)
Pinus merupakan salah satu pohon penghasil kayu
bernilai ekonomis tinggi dan juga penghasil getah sehingga disebut pohon
berfungsi ganda. Jenis Pinus yang mendominasi di Indonesia adalah Pinus merkusii, daerah penyebarannya yaitu Aceh,
Sumatera Utara, Sumatera Barat, dan seluruh Jawa. Hingga saat ini getah Pinus
masih menjadi HHBK “primadona” di pasar nasional hingga internasional. Getah
Pinus dapat diolah menjadi gondorukem. Gondorukem merupakan produk hasil
penyulingan dari getah Pinus yang biasa disebut gum rosin, pine rosin,
colophony atau kucing gondorukem berupa padatan berwarna kuning jernih sampai
kuning tua sedangkan hasil sampingan dari proses produksi gondorukem yaitu
terpentin yang berupa cairan berwarna jernih (Wibowo, 2006).
Menurut Statistik Kehutanan
Indonesia (2001), kegunaan gondorukem adalah untuk bahan baku industri kertas,
keramik, plastik, cat, batik, sabun, tinta cetak, politur, farmasi, dan
kosmetik. Sedangkan terpentin digunakan sebagai pelarut minyak organik dan
resin. Dalam industri digunakan sebagai bahan semir sepatu, logam dan kayu
hingga kamper sintetis. Indonesia merupakan produsen gondorukem ke dua setelah
Cina dalam perdagangan internasional. Delapan puluh persen produksi gondorukem
dan terpentin dialokasikan untuk kebutuhan eksport ke Eropa, India, Korea
Selatan, Jepang dan Amerika. Berdasarkan data statistik Kehutanan Provinsi
Sumatera Utara produksi gondorukem di Kabupaten Karo setiap tahunnya sebanyak
1500 kg/ha.
Pohon Pinus (Pinus
merkusii) dapat menghasilkan getah yang dapat diolah lebih lanjut untuk
menghasilkan produk turunan yang memiliki nilai ekonomi tinggi. Pada tahun
2015, produksi getah Pinus secara nasional mencapai 108,945.33 ton (Data Ditjen
Pengelolaan Hutan Lestari, 2015). Getah yang berasal dari pohon Pinus berwarna
kuning dan bertekstur lengket, getah tersebut tersusun dari campuran bahan
kimia yang kompleks. Unsur-unsur utama yang menyusun getah pinus adalah asam
terpen dan asam abietic. Campuran bahan tersebut larut dalam alkohol, bensin,
eter, dan sejumlah pelarut organik lainnya, tetapi tidak larut dalam air. Pohon
Pinus idealnya dapat memproduksi getah sebanyak 6 kg/tahun tiap pohonnya.
Getah Pinus
yang telah disadap kemudian diolah dengan proses destilasi (penyulingan). Dari
hasil penyulingan getah Pinus merkusii rata-rata dihasilkan
64% gondorukem, 22,5% terpentin, dan 12,5% kotoran. Gondorukem merupakan hasil
pembersihan terhadap residu proses destilasi uap terhadap getah Pinus, hasil
destilasinya sendiri menjadi terpentin. Gondorukem dan terpentin yang biasa
digunakan dalam industri batik, sabun, bahan plitur, dan bahan pelarut cat.
2.
Mahoni (Swietenia macrophylla)
Tanaman mahoni adalah tanaman
tahunan dengan tinggi yang bisa mecapai 10 – 20 m dan diameter lebih dari 100
cm. Sistem perakaran tanaman mahoni yaitu akar tunggang. Batang berbentuk
bulat, berwarna cokelat tua keabu-abuan, dan memiliki banyak cabang sehingga
kanopi berbentuk payung dan sangat rimbun. Swietenia macrophylla berasal dari
benua Amerika yang beriklim tropis. Pertama kali masuk ke Indonesia (ditanam di
Kebun Raya Bogor) Tahun 1872. Mulai dikembangkan seara luas di pulau Jawa
antara tahun 1897 sampai 1902.
Tanaman mahoni sudah lama
dibudidayakan di Indonesia dan sudah beradaptasi dengan iklim tropis di
Indonesia. Nama asing dari tanaman ini adalah West Indian Mahogany. Mahoni
adalah tumbuhan tropis yang tumbuh liar di hutan jati, pinggir pantai dan
banyak ditanam di pinggir jalan atau di lingkungan rumah dan halaman
perkantoran sebagai tanaman peneduh. Tanaman ini termasuk jenis tanaman yang
tidak memiliki persyaratan tipe tanah secara spesifik, mampu bertahan hidup
pada berbagai jenis tanah bebas genangan dan reaksi tanah sedikit asam-basah
tanah, gersang atau marginal walaupun tidak hujan selama berbulan-bulan mahoni
masih mampu untuk bertahan hidup. Pertumbuhan mahoni akan tetap subur, bersolum
dalam dan aerasi baik pH 6,5 sampai 7,5 tumbuh dengan baik sampai ketinggian
maksimum 1.000 mdpl sampai 1.500 mdpl.
Tanaman
mahoni (Swietenia macrophylla) banyak ditanam sebagai pohon pelindung karena
sifatnya yang tahan panas dan memiliki daya adaptasi yang baik terhadap
berbagai kondisi tanah sehingga tetap bertahan menghiasi tepi jalan di beberapa
daerah. Tanaman ini dikembangkan pada awalnya di wilayah Jawa sejak jaman
penjajahan Belanda. Kayu mahoni mempunyai nilai ekonomis yang cukup tinggi
sehingga dibudidayakan untuk keperluan sumber bahan baku industri. Kualitas
kayunya keras dan memiliki warna kemerahan, sangat baik digunakan untuk meubel,
furniture, barang-barang ukiran dan kerajinan tangan. Kayu mahoni memiliki
kualitas yang mendekati kualitas kayu jati sehingga sering dijuluki sebagai
primadona kedua. Berdasarkan jenisnya, mahoni terdiri atas mahoni berdaun kecil
(Swietenia mahagoni) dan mahoni berdaun lebar (Swietenia macrophylla). Kualitas
kayu mahoni berdaun kecil lebih baik dibandingkan mahoni berdaun lebar.
Mahoni termasuk kayu yang mudah dibudidayakan
karena dapat tumbuh pada berbagai tempat dan berbagai jenis tanah. Umumnya
dapat tumbuh pada tanah yang agak liat dengan ketinggian 1000 mdpl. Telah
banyak penelitian yang dilakukan mengenai tanaman mahoni, dimana dihasilkan
keragaman genetik mahoni (Swietenia macrophylla) yang cukup tinggi. Keragaman
genetik yang cukup tinggi menyebabkan fenotipe yang tinggi sehingga perlu
dilakukan analisis morfologi dan fisiologi.
Manfaat mahoni yakni dijadikan sebagai tanaman pelindung, pohon mahoni memiliki batang yang besar dan cukup tinggi serta memiliki daun yang rimbun. Tanaman mahoni juga mulai dibudidayakan karena kayunya mempunyai nilai ekonomis yang cukup tinggi. Kualitas kayunya bertekstur keras dan sangat baik untuk meubel, furnitur, barang-barang ukiran dan berbagai kerajinan tangan. Kayu Mahoni juga sering dibuat untuk penggaris karena sifatnya yang tidak mudah berubah. Pemanfaatan lain dari tanaman Mahoni adalah kulitnya yang dapat dipergunakan untuk mewarnai pakaian. Kain yang direbus bersama kulit Mahoni akan menjadi kuning dan tidak mudah luntur. Getah mahoni disebut juga blendok dapat dipergunakan sebagai bahan baku lem, dan daunnya dapat digunakan untuk pakan ternak.
Mahoni kini ditanam secara luas di daerah
tropis untuk program reboisasi dan penghijauan bermanfaat sebagai tanaman
naungan dan kayu bakar. Manfaat lainnya dari pohon kayu mahoni yakni bisa
mengurangi polusi udara sekitar 47%- 69% sehingga layak disebut pohon pelindung
sekaligus filter udara dan daerah tangkapan air, sedangkan daun-daunnya,
memiliki fungsi sebagai penyerap polutan-polutan di sekitarnya. Mahoni juga
memiliki fungsi sebagai obat yang terkandung pada biji dan kulit dari buahnya,
yang dijadikan serbuk. Biji digunakan sebagai obat untuk tekanan darah tinggi,
kencing manis, kurang nafsu makan, rematik, demam, masuk angin, serta ekzema.
Biji Mahoni juga dipakai untuk pengobatan malaria.
Tempat
Tumbuh Mahoni termasuk tanaman yang tahan naungan (tolerance spesies) yang
mampu bersaing dengan alang-alang ataupun semak belukar dalam memperoleh sinar
matahari, sehingga cocok untuk tanaman reboisasi pada areal alang – alang yang
rapat. Perakaran waktu muda sangat cepat tumbuhnya terutama akar tunggang
sehingga memerlukan jenis tanah dengan solum yang agak tebal. Mahoni ditanam di
pulau jawa pada berbagai jenis tanah, di daerah dengan curah hujan 500 – 2500
mm/th atau tipe iklim A-Dmenurut klasifikasi Schmidt dan Ferguson pada sampai
1000 mdpl. Iklim yang cocok untuk tanaman mahoni sangat bervariasi, umumnya
yang mempunyai curah hujan yang tinggi. Mahoni tumbuh di Amerika Tengah dengan
curah hujan kira – kira 1500 mm/th. Mahoni umunya tumbuh di daerah tropis, di
daratan rendah hingga ketinggian 1500 mdpl.
3.
Akasia (Acacia mangium)
Akasia termasuk tanaman yang cepat
tumbuh dan mudah tumbuh pada kondisi lahan yang rendah tingkat kesuburannya,
seperti pada lahan marginal dengan pH rendah, tanah berbatu serta tanah yang
telah mengalami erosi. Jumlah curah hujan di areal tumbuhnya akasia bervariasi
dari 1.000 mm sampai lebih dari 4.500 mm dengan rata-rata suhu 12-340C. Akasia
sangat membutuhkan sinar matahari, tidak toleran terhadap naungan dan akan
tumbuh kurang subur dengan bentuk tinggi dan kurus. Dapat tumbuh pada
ketinggian di atas permukaan laut sampai 480 m dan bisa mengalami kematian jika
terkena kekeringan yang parah atau musim dingin yang berkepanjangan
Pohon akasia termasuk tumbuhan
dikotil yang berakar tunggang berwarna putih kotor dan bercabang. Akar tunggang
berbentuk kerucut panjang, tumbuh lurus kebawah, akanya bercabang banyak
sehingga dapat memberi kekuatan lebih besar kepada batang dan juga zat-zat
makanan yang diperoleh lebih banyak sehingga dapat tumbuh subur dan pesat pohon
akasia pada umumnya besar dan bisa mencapai ketinggian 30 m, dengan batang
bebas cabang lurus yang bisa mencapai lebih dari setengah total tinggi pohon.
A. mangium adalah salah satu tanaman
yang dapat dijadikan sebagai bahan utama pembuatan kertas. Potensi utama kayu
akasia sebagai bahan baku pulp sudah diakui secara luas oleh perindustrian
kayu, akasia juga berpotensi sebagai tanaman penghijau di perkotaan. Manfaat
dari tanaman akasia adalah sebagai penghasil pulp dan kertas, furniture, kayu
lapis, lantai dan kontruksi bangunan. Di Indonesia luas tanaman akasia telah
mencapai 1.2 juta ha dan sebagian besar berupa tanaman A. mangium.
Akasia termasuk tanaman yang cepat
tumbuh dan mudah tumbuh pada kondisi lahan yang rendah tingkat kesuburannya,
seperti pada lahan marginal dengan pH rendah, tanah berbatu serta tanah yang
telah mengalami erosi. Jumlah curah hujan di areal tumbuhnya akasia bervariasi
dari 1.000 mm sampai lebih dari 4.500 mm dengan rata-rata suhu 12-34 0C Akasia
sangat membutuhkan sinar matahari, tidak toleran terhadap naungan dan akan
tumbuh kurang subur dengan bentuk tinggi dan kurus. Dapat tumbuh pada
ketinggian di atas permukaan laut sampai 480 m dan bisa mengalami kematian jika
terkena kekeringan yang parah atau musim dingin yang berkepanjangan.
Bagian-bagian dari pohon akasia
dapat diolah diambil manfaatnya untuk berbagai keperluan, yaitu parfum dimana
pohon akasia dapat digunakan untuk bahan baku ornamen minyak wangi, aroma khas
yang dihasilkan dari pohon semak berduri ini sangat khas dan banyak digemari.
Tanaman Hias, salah satu spesies akasia, yakni Acacia dealbata, Acacia
retinodes, Acacia xanthophloea, dan Acacia baileyana banyak dimanfaatkan untuk
tanaman hias yang bernilai jual tinggi dan indah. Astrigen dimana kandungan
tanin dari akasia dapat di ekstraksi dengan metode penguapan, astrigen banyak
digunakan untuk produk-produk kecantikan. Obat diabetes dan hipertensi
dimana air rebusan daun akasia dapat
membantu menormalkan kadar gula dalam darah. Menjaga Struktur tanah, pohon
akasia dapat digunakan untuk menahan lereng atau tebing yang curam agar
terhindar dari longsor. Peneduh Jalan, beberapa ruas jalan, pohon akasia
sengaja di tanam sebagai peneduh jalan. Perabot rumah tangga dan kosntruksi
bangunan, kayu akasia juga dapat dimanfaatkan untuk pembuatan perabot rumah
tangga, seperti almari, meja dan kursi. Selain itu, kayu akasia juga bermanfaat
untuk struktur rumah.
Saat ini pohon Akasia telah banyak
ditanam, terutama di Benua Asia.
Kegunaan utama kayu Akasia adalah sebagai bahan baku pembuatan
kertas, fungsi lainnya sebagai kayu
bakar, kayu konstruksi dan bahan baku furniture. Tegakannya berguna sebagai pengendali erosi,
tempat tinggal bagi hewan dan sebagai
peneduh.Sifat yang bernilai dari jenis ini adalah kemampuannya untuk berkompetisi dengan rumput sehingga dapat
mengurangi jumlah rumput pada tanah yang
penutupan lahannya jarang. Pemanfaatan kayu Akasia hingga saat ini telah
mengalami spektrum yang luas, terutama
untuk kayu serat sebagai bahan baku industri pulp dan kertas, dengan adanya
perubahan kondisional baik yang menyangkut kapasitas industri maupun adanya
desakan kebutuhan kayu, maka kayu Akasia
digunakan pula sebagai kayu pertukangan maupun kayu energi sebagai bahan bakar arang.
Pohon Akasia juga dapat digunakan
sebagai pohon penaung, ornamen,
penyaring, pembatas dan penahan angin, serta dapat ditanam pada
sistem wanatani dan pengendali
erosi. Jenis ini banyak dipilih oleh petani untuk tujuan peningkatan
kesuburan tanah ladang atau padang
rumput. Pohon Akasia mampu berkompetisi dengan gulma yang agresif, seperti alang-alang (Imperatacylindrica); jenis ini
juga mengatur nitrogen udara dan
menghasilkan banyak serasah, yang dapat meningkatkan aktivitas biologis
tanah dan merehabilitasi sifat-sifat
fisika dan kimia tanah (Otsamo dkk. 1995). Pohon Akasia juga dapat digunakan sebagai penahan
api karena pohon berdiameter 7 cm atau
lebih biasanya tahan terhadap api.
Akasia
termasuk tanaman yang cepat tumbuh dan mudah tumbuh pada kondisi lahan yang
rendah tingkat kesuburannya, seperti pada lahan marginal dengan pH rendah,
tanah berbatu serta tanah yang telah mengalami erosi. Jumlah curah hujan di
areal tumbuhnya akasia bervariasi dari 1.000 mm sampai lebih dari 4.500 mm
dengan rata-rata suhu 12-34 0C. Akasia sangat membutuhkan sinar matahari, tidak
toleran terhadap naungan dan akan tumbuh kurang subur dengan bentuk tinggi dan
kurus (Litbang, 1994). Dapat tumbuh pada ketinggian di atas permukaan laut
sampai 480 m dan bisa mengalami kematian jika terkena kekeringan yang parah
atau musim dingin yang berkepanjangan .
4.
Kamper/Kapur (Cinnamomum camphora)
Nama-nama
kayu kapur di berbagai daerah diantaranya adalah kayu kapur, kamper, dan hayu
hapur.13 Ampadu, ampalang, awang tanet, bayau, belakan, binderi, empedu,
kalampait, kapur, kapur hitam, kapur kedemba, kapur merah, kapur naga, kapur
sintuk, kapur tanduk, kapur tulang, kayatan, keladan, melampait, mengkayat,
mohoi, muri, serapan, sintok, tulai, wahai (Kalimantan), haburuan, kaberun,
kamfer, kuras (Sumatera).14 Di Indonesia pohon kamper tersebar di daerah Aceh,
Sumatera Utara, Sumatera Barat, Riau dan seluruh wilayah Kalimatan. Kayu kapur
merupakan pohon besar yang tumbuh pada ketinggian 400 m dpl. Kapur barus
terletak pada bagian dalam kulit kayu, baunya seperti lada. Diameter batangnya
mencapai 70 cm bahkan 150 meter dengan tinggi pohon mencapai 60 meter. Kulit
pohon berwarna coklat dan coklat kemerahan di daerah dalam. Pada batangnya akan
mengeluarkan aroma kapur bila dipotong. Daun kayu kapur tunggal dan berseling,
memiliki stipula di sisi ketiak, dengan permukaan daun mengkilap, dan tulang
daun sekunder menyirip sangat rapat dengan stipula berbentuk garis dan sangat
mudah luruh. Bunga berukuran sedang, kelopak mempunyai ukuran sama besar,
mempunyai mahkota bunga elips, mekar, putih berlilin, dan memiliki 30 benang sari.
Deskripsi Morfologi Pohon kamper
mempunyai ukuran yang besar dan tinggi. Diameter batangnya mencapai 70 cm
bahkan 150 meter dengan tinggi pohon mencapai 60 meter. Kulit pohon berwarna
coklat dan coklat kemerahan di daerah dalam. Pada batangnya akan mengeluarkan
aroma kapur bila dipotong. Batang sedikit beralur, mengelupas besar, kulit
hidup berwarna kuning-merah. Daun kamper tunggal dan berseling, memiliki
stipula di sisi ketiak, dengan permukaan daun mengkilap, dan tulang daun
sekunder menyirip sangat rapat dengan stipula berbentuk garis dan sangat mudah
jatuh. Bunga berukuran sedang, kelopak mempunyai ukuran sama besar, mempunyai
mahkota bunga elips, mekar, putih berlilin, dan memiliki 30 benang sari. Pohon
Kamper memiliki buah agak besar, mengkilap, dan bersayap sebanyak 5 helai
(Sutrisna, 2008). Kamper tumbuh di hutan dipterocarpa campuran hingga
ketinggian 300 meter dpl. Persebaran tumbuhan langka ini mulai dari Indonesia
(pulau Sumatera dan Kalimantan) dan Malaysia (Semenanjung Malaysia, Sabah, dan
Serawak).
Kamper
adalah salah satu jenis pohon yang diketahui pasti mengandung borneol. Unsur
yang dimanfaatkan dari pohon kamper ini adalah kristal kapur dan minyak kamper.
Kristal kamper diperoleh pada bagian tengah (dalam) batang pohon. Kedua unsur
tersebut tidak selalu ada pada pohon kamper terutama pada pohon yang berusia
ratusan tahun atau pada pohon yang masih terlalu muda (Sutrisna, 2008). Kamper
mempunyai kualitas borneol yang baik.Minyak kamper banyak digunakan untuk
produk kosmetik, dengan sasaran pada pembuatan lilin aromaterapi, sabun anti
jerawat. Berdasarkan uji organoleptik, kamper juga berpotensi sebagai bahan
parfum yang disukai. Minyak dan kristal kamper berpotensi sebagai obat karena
aktivitas antimikroba minyak dan kristal sangat baik menghambat pertumbuhan
mikroba S. aureus dan C. albicans. Kandungan borneolnya juga dianggap sebagai
bio medicine untuk mencegah pengentalan dan pembekuan. Selain resinnya, kayu
kamper banyak digunakan sebagai balok, tiang dan konstruksi atap, papan pada
bangunan perumahan dan jembatan, perkapalan, peti dan mebel.
5.
Trembesi (Samanea saman)
Tanaman trembesi dikenal dengan
beberapa nama dalam bahasa Inggris seperti, Rain Tree, Monkey Pod, East Indian
Walnut, Saman Tree, dan False Powder Puff. Di Negara sub tropis tanaman
trembesi dikenal dengan nama Bhagaya Mara (Kanada), Algarrobo (Kuba), Campano
(Kolombia), Regenbaum (Jerman), Chorona (Portugis), sedangkan di beberapa
Negara Asia pohon ini disebut Pukul Lima (Malaysia), Jamjuree (Thailand), Cay
Mura (Vietnam), Vilaiti Siris (India). Tanaman ini merupakan jenis tanaman yang
berasal dari Amerika tengah dan Amerika selatan sebelah utara (Staples dan
Elevitch, 2006). Tanaman trembesi mudah dikenali dari kanopinya yang indah dan
luas, sehingga tanaman ini sering digunakan sebagai tanaman hias dan peneduh
sekaligus mampu sebagai penyerap polutan dan karbon.
Tanaman trembesi dapat mencapai
ketinggian rata-rata 20-25 m. Bentuk
batangnya
tidak beraturan, dengan daun majemuk yang panjangnya sekitar 7-15 cm, sedangkan
pada pohon trembesi yang sudah tua berwarna kecoklatan, permukaan kulit kasar,
dan terkelupas. Bunga tanaman ini berwarna putih dengan
bercak
merah muda pada bagian bulu atasnya, panjang bunga mencapai 10 cm dari pangkal
bunga hingga ujung bulu bunga. Bunga trembesi menghasilkan nektar untuk menarik
serangga guna berlangsungnya proses penyerbukan. Buah trembesi berwarna coklat
kehitaman ketika buah sudah masak, dengan biji tertanam dalam daging buah.
Perkembangbiakan dapat dilakukan dengan beberapa cara yaitu biji, stek batang
(menggunakan tunas vertikal), stek akar, dan stump. Jika dibutuhkan dalam skala
besar biji dikoleksi untuk disemaikan di persemaian atau dengan cara menanam
langsung di lapangan.
Trembesi
digunakan terutama sebagai pohon peneduh dan hiasan. Trembesi adalah pohon
besar dan tumbuh cepat,mahkota daun menyerupai payung dan lebar, banyak ditanam
karena naungan, daunnya digunakan sebagai pakan ternak, buahnya menyerupai
polong yang tebal dan berdaging. Tumbuhan ini pernah populer sebagai tanaman
peneduh. Pohon ini mempunyai beberapa julukan seperti Saman, pohon hujan, dan
monkey pod. Perakarannya sangat meluas sehingga kurang populer karena dapat
merusak jalan, Perum Perhutani menggunakan trembesi sebagai peneduh di tempat
pengumpulan kayu. Dalam upaya pengurangan emisi karbon, pemerintah melalui
program one man one tree menggalakkan penanaman tembesi karena trembesi
diyakini sebagai penyerap karbon yang tinggi. Selain tanaman peneduh, trembesi
memiliki kegunaan sebagai obat-obatan. Daun trembesi dapat digunakan sebagai
obat tradisional antara lain demam, diare, sakit kepala, dan sakit perut. Biji
yang tua dapat diolah sebagai makanan ringan dan berkhasiat sebagai obat
pencuci perut dengan cara merebus biji dengan air panas lalu air rebusannya
diminum. Daun trembesi mengandung senyawa metabolit sekunder yaitu tanin,
selain tanin daun trembesi juga mengandung flavonoid, saponin, steroid,
terpenoid, dan glikosida kardiak. Sementara itu, hasil penelitian dari
Raghavendra et al. (2008) diperoleh bahwa daun trembesi juga mengandung senyawa
metabolit sekunder alkaloid. Selain sebagai pohon peneduh, tanaman trembesi
dapat pula digunakan sebagai bahan obat tradisional seperti diare, demam, sakit
perut, dan sakit kepala. Sementara biji dari trembesi dapat digunakan sebagai
obat pencuci perut dengan menyeduh bijinya menggunakan air panas dan air
seduhannya dapat langsung diminum. Selain itu ekstrak dari daun trembesi dapat
digunakan sebagai antimikroba terhadap Escherichia coli, Staphylococcus aureus,
Candida albican, dan Xanthomonas.
6.
Saga (Adenanthera pavonina)
Saga merupakan tumbuhan perdu yang
tumbuh dengan cara membelit. Saga dapat tumbuh mencapai panjang 2-5 meter,
dengan batang berkayu yang berbentuk bulat. Daun saga merupakan daun yang
majemuk yang berselangseling, menyirip ganjil, anak daunnya berjumlah 8-18
pasang, dengan bentuk bulat telur dan ujungnya meruncing, panjang daun mencapai
6-25 mm, lebar daun mencapai 3-8 mm, tepi daun rata dan berwarna hijau. Bunga
saga termasuk bunga majemuk, berbentuk tandan yang bagian atas terdiri dari
bunga jantan dan benang sari bersatu pada tabung, panjang tangkai 1cm, berwarna
putih dan kepala sari berwarna kuning, tajuk bunga bersayap. Buah saga
berbentuk polong, panjang buah saga mencapai 2-5 cm dan berwarna hijau. Biji
saga berbentuk bulat telur yang keras, panjang bijinya mencapai 6- 7 mm dan
tebal biji mencapai 4-5 mm, biji saga berwarna merah yang mempunyai bercak
kecil di ujung biji yang berwarna hitam. Akar saga merupakan jenis akar
tunggang yang berwarna coklat. Tumbuhan saga dapat tumbuh dengan baik pada
daerah dataran rendah sampai ketinggian 1000 meter di atas permukaan laut
Saga pohon (Adenanthera pavonina L.) adalah
pohon yang buahnya menyerupai petai dengan bijinya kecil berwarna merah. Tumbuhan
ini berasal dari Asia Selatan namun sekarang telah tersebar pantropis. Saga
pohon umum dipakai sebagai pohon peneduh di jalan-jalan besar. Tumbuhan ini
juga mudah ditemui di pantai. merupakan tanaman serbaguna, semua bagian tanaman
bermanfaat mulai dari biji, kayu, kulit batang dan daunnya. Saga pohon mampu
memproduksi biji kaya protein serta tidak memerlukan lahan khusus untuk
penanaman karena bisa tumbuh di lahan kritis, tidak perlu dipupuk atau
perawatan intensif. Selain itu, hama dan gulmanya minim sehingga tidak
memerlukan pestisida, jadi bersifat ramah lingkungan karena dapat ditanam
bersama tumbuhan lainnya. Kandungan protein yang terdapat pada biji saga pohon
tersebut juga lebih besar bila dibandingkan dengan kedelai dan beberapa tanaman
komersil lainnya. Jenis ini umumnya dipakai sebagai peneduh di jalan-jalan
besar dan juga mudah ditemukan di pantai. Daunnya dapat dimakan dan mengandung
alkaloid yang berkhasiat bagi penyembuh reumatik. Bijinya dapat digunakan
sebagai bahan tempe non kedelai karena kaya protein dan sumber energi
alternatif (biodiesel) karena mengandung asam lemak.
Jumlah asam lemak bebas yang terkandung pada
biji/benih saga pohon relatif tinggi terutama peroksida dan saponification
senilai 29,6 mEqkg dan 164,1 mgKOHg. Selain itu, saga pohon juga mengandung
protein (2,44 g/100 g), lemak (17,99 g/100 g), mineral, gula yang rendah (8,2
g/100 g), tajin (41,95 g/100 g) dan karbohidrat. Kayunya keras sehingga banyak
dipakai sebagai bahan bangunan serta mebel. Mengingat banyaknya manfaat dan
kegunaan dari pohon saga tersebut, maka pohon saga mempunyai potensi dan perlu
dikembangkan melalui budidaya. Kawasan hutan produksi yang tidak produktif dan
lahan kritis di luar kawasan hutan dapat ditanami saga. Manfaat dan kegunaan
pohon ini dapat menjadi sumber penghidupan masyarakat dan sumber pendapatan
suatu daerah.
Saga
Pohon tumbuh baik di daerah tropika, dan tidak memerlukan pemeliharaan khusus
serta mampu tumbuh baik di daerah berbatu, di daerah payau ataupun di tanah
alang-alang. Tanaman ini mampu tumbuh pada berbagai keadaan topografi mulai
dari topografi datar sampai dengan kelerengan yang curam/terjal selain itu
dapat tumbuh pada berbagai kondisi tanah, mulai dari tanah kurang subur hingga
tanah yang subur, serta pada tanah yang tergenang air laut/asin.
Biji saga pohon dapat dikonsumsi
manusia, di beberapa daerah di Indonesia biji saga sudah biasa dimanfaatkan
untuk bahan makanan. Biji saga pohon sejak tahun 1979 di desa Nagoega,
kecamatan Boa Wae telah dimanfaatkan untuk bahan campuran kopi (kopi saga) dan
di daerah Ende telah dimanfaatkan untuk pembuatan kecap, kopi saga, tempe saga.
Biji saga-pohon mengandung protein cukup tinggi sehingga dapat digunakan
sebagai sumber protein nabati disamping kedele, oleh karena itu diharapkan dapat
dijadikan komoditi baru dalam menunjang usaha penanggulangan kekurangan gizi
dan pangan. Kadar asam amino biji saga-pohon hampir mirip dengan asam amino
kedele, dimana asam amino glutamate merupakan komponen tertinggi yang
terkandung dalam kedua jenis tersebut.
Kulit
batang yang masih segar atau kering mengandung saponin yang dapat digunakan
untuk membersihkan rambut dan mencuci pakaian tetapi tidak memberikan banyak
buih dan berkhasiat untuk mencuci luka yang lama. Untuk mencuci luka lama
dipakai ±20 gram kulit batang, dicuci dan dipotong kecilkecil, direbus dengan 2
gelas air selama 15 menit, dinginkan dan saring. Hasil saringan dipakai untuk
membersihkan luka. Daun Daun dari tanaman ini dapat digunakan sebagai bahan
obat. Di India daun saga-pohon digunakan untuk obat rheumatik dan gout (sejenis
penyakit tulang). Selain itu, daun biasa digunakan para peternak sebagai sumber
tambahan pakan ternak dan dimanfaatkan para petani sebagai pupuk hijau.
BAB III
Kesimpulan
Kesimpulan
1.
Pohon adalah tumbuhan menahun dengan batang yang tumbuh memanjang,
mendukung cabang dan daun pada sebagian besar spesies.
2.
penanaman pohon ini adaah untuk meningkatkan kepedulian dari berbagai pihak
akan pentingnya penanaman dan pemeliharaan pohon yang berkelanjutan dalam
mengurangi dampak pemanasan global dan untuk mencapai Pembangunan Indonesia
yang hijau
3.
Pinus merupakan salah satu pohon penghasil kayu bernilai ekonomis tinggi
dan juga penghasil getah sehingga disebut pohon berfungsi ganda, getah Pinus
masih menjadi HHBK “primadona” di pasar nasional hingga internasional.
4.
Tanaman mahoni adalah tanaman tahunan dengan tinggi yang bisa mecapai 10 –
20 m dan diameter lebih dari 100 cm. Tanaman mahoni juga mulai dibudidayakan
karena kayunya mempunyai nilai ekonomis yang cukup tinggi. Kualitas kayunya
bertekstur keras dan sangat baik untuk meubel, furnitur, barang-barang ukiran
dan berbagai kerajinan tangan.
5.
Akasia termasuk tanaman yang cepat tumbuh dan mudah tumbuh pada kondisi
lahan yang rendah tingkat kesuburannya, Manfaat dari tanaman akasia adalah
sebagai penghasil pulp dan kertas, furniture, kayu lapis, lantai dan kontruksi
bangunan.
Saran
Sebaiknya praktikan mengikuti
praktikum dari awal dan akhir dengan fokus agar dapat memahami materi dan dapat
melakukan praktek langsung supaya tidak terjadi kesalahan.
DAFTAR
PUSTAKA
Carolina Eva Nita,
Bambang Siswanto, Wani Hadi Utomo. 2015. Pengaruh Pengolahan Tanah dan
Pemberian Bahan Organik (Blotong dan Abu Ketel) terhadap Porositas Tanah Dan
Pertumbuhan Tanaman Tebu Pada Ultisol. Jurnal Tanah dan Sumberdaya Lahan 2(1):
119-127.
Eri Widianto, Dian
Budhi Santoso, Kardiman, Asep Erik Nugraha. 2020. Pemberdayaan Masyarakat
tentang Pemanfaatan Tanaman Saga (Abrus Precatorius L) di Desa Tanahbaru
Pakisjaya Karawang. Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat, 4(1):63-69.
Muh. Azdar
Setiawan* , Muh. Syaiful Saehu, Kartini.2019. Uji Efek Antidiabetik Ekstrak
Daun Trembesi (Albizia saman (Jacq.) Merr) Terhadap Mencit (Mus musculus L).
Jurnal Warta Farmasi 8(2): 43-52.
S.Agung Sri
Raharjo, Hery Kurniawan, Aziz Umroni, Eko Pujiono, Mellianus Wanaha. 2016.
Potensi Mahoni (Swietenia macrophylla King) Pada Hutan Rakyat Sistem Kaliwo di
Malimada, Sumba Barat Daya. Jurnal Ilmu Lingkungan, 14(1):1-10.
Skandar, Dudi.,
dan Ahmad Suhendra. 2012. Uji Inokulasi
Fusarium Sp untuk Produksi Gaharu pada Budidaya A. Beccariana. Jurnal Sains dan
Teknologi Indonesia Vol. 14, No. 3 : 182-188
Rimbawanto, Anto.,
Noor Khomsah Kartikasari., dan Prastyono. 2017. Minyak Kayuputih : Dari Tanaman
Asli Indonesia Untuk Masyarakat Indonesia. Yogyakarta : Penerbit Kaliwangi
Santoso, Erdy.,
Luciasih Agustini., Irnayuli R. Sitepu., dan Maman Turjaman. 2007. Efektivitas
Pembentukan Gaharu dan Komposisi Senyawa Resin Gaharu Pada Aquilaria spp.
Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol. IV No. 6 : 543-551.
Suwaji, Sugianto.,
Arifuddin Lamusa., dan Dafina Howara. 2017. Analisis Pendapatan Petani Penyadap
Getah Pinus di Desa Tangkulowi Kecamatan Kulawi Kabupaten Sigi Sulawesi Tengah.
E-Jurnal Agrotekbis 5 (1) : 127 – 133

