Paper Mata Kuliah
Bisnis Kehutanan Medan, Juni
2022
POTENSI BISNIS
KEHUTANAN DI KAWASAN OBYEK WISATA ALAM HUTA GINJANG,
KECAMATAN MUARA, KABUPATEN TAPANULI UTARA
Dosen Penanggung
Jawab:
Dr. Agus Purwoko, S.Hut., M.Si.
Oleh :
Ultari Manalu
191201126
MNH 6
DEPARTEMEN MANAJEMEN HUTAN
FAKULTAS KEHUTANAN
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
2022
KATA PENGANTAR
Puji dan
syukur penulis haturkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas berkat dan
rahmat-Nya penulis dapat menyelesaikan Paper mata kuliah
Bisnis Kehutanan ini
dengan baik dan tepat waktu. Adapun judul dari paper ini adalah “Potensi Bisnis Kehutanan di Kawasan
Obyek Wisata Alam Huta Ginjang, Kecamatan Muara, Kabupaten Tapanuli Utara” yang
disusun sebagai salah satu syarat dalam penilaian “Mata Kuliah Binis Kehutanan” Departemen
Manajemen Hutan, Fakultas Kehutanan, Universitas Sumatera Utara, Medan.
Dalam
pembuatan paper, penulis dibantu oleh dosen penangajar mata kuliah Bisnis
Kehutanan Dr. Agus Purwoko, S.Hut., M.Si. yang telah membantu dan membimbing
penulis hingga terwujudnya paper ini. Penulis menyadari bahwa paper ini belum
sempurna, baik dari segi teknik penyusunan maupun dari segi materi dan
pembahasan. Oleh sebab itu, penulis mengharapkan kritik dan saran dari para
pembaca demi penyempurnaan paper ini.
Medan, Juni 2022
Penulis
DAFTAR ISI
Halaman
KATA PENGANTAR............................................................................... . i
DAFTAR ISI.............................................................................................. ii
BAB I PENDAHULUAN
A.
Latar
Balakang........................................................................... 1
B. Tujuan Analisis.......................................................................... 2
BAB II ISI
2.1. Deskripsi Objek Wisata Alam Huta Ginjang............................. 3
2.2. Karakteristik Objek Wisata Alam Huta Ginjang....................... 4
2.3 Potensi Ekonomi Dari Objek Wisata
Alam Huta Ginjang......... 6
2.4 Ide Potensi Pengembangan Objek Wisata Alam Geosite Huta
Ginjang.................................................................................... 9
BAB III KESIMPULAN DAN SARAN
3.1 Kesimpulan ................................................................................ 12
3.2 Saran ........................................................................................... 12
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN
BAB
I
PENDAHULUAN
1. 1.
Latar Belakang
Hasil hutan adalah
potensi sumber daya ekonomi yang beragam. Pada kawasan hutan dapat dihasilkan
hasil hutan yang tidak berwujud seperti kayu, hutan bukan kayu, perlindungan
tanah, perlindungan sumber daya air dan berbagai produk wisata. Hal ini
menunjukkan bahwa hutan, kehutanan, dan hasil hutan merupakan sumber daya yang
memiliki potensi untuk menciptakan barang, jasa, dan kegiatan ekonomi yang
sangat bermanfaat bagi masyarakat. Hasil hutan mampu menjaga manusia dari
gangguan akibat bencana alam maupun bencana buatan manusia. Keberadaan hutan
sebagai bagian dari ekosistem skala besar memiliki arti dan peran penting dalam
mendukung sistem kehidupan. Keberadaan hutan dapat memperoleh berbagai manfaat
yang sangat besar melalui fungsinya, salah satu contohnya adalah penyedia jasa
pariwisata. Keberadaan hutan memberikan manfaat yang relative besar, antara
lain manfaat langsung dan manfaat tidak langsung (manfaat berwujud dan tidak
berwujud). Manfaat-manfaat ini perlu dievaluasi secara ekonomi untuk mengelola
kawasan dengan sebaik-baiknya (Damanik, 2021).
Ekowisata dapat
didefinisikan sebagai petualangan para wisatawan menuju wilayah bukan perkotaan
untuk melaksanakan aktivitas pariwisata yang memiliki tujuan untuk mempelajari
dan menikmati alam, budaya dan sejarah di suatu tempat, dengan memastikan
sumber daya alam dan lingkungan tetap lestari. Sehingga spesies flora dan fauna
di alam tetap berada pada kondisi lestari dalam habitatnya dan level/taraf
perekonomian masyarakat lokal dan sekitar dapat meningkat. Menurut The
International Ecotourism Society, ekowisata adalah aktivitas petualangan
yang berfokus pada wilayah alami yang bersifat menjaga kelestarian sumber daya
alam dan lingkungan, menaikkan kesejahteraan masyarakat setempat, dan
melibatkan interpretasi serta pembelajaran mengenai lingkungan hidup (Damanik,
2021).
Ekowisata
menyuguhkan keutuhan tujuan pariwisata yang menyeimbangkan antara menikmati
panorama alam yang indah dan upaya menjaganya. Sektor ekowisata ini dapat aktif
berkontribusi untuk menghasilkan solusi untuk menuntaskan permasalahan yang
berpotensi terjadi pada pengembangan nilai tempat wisata. Poin prioritas dalam
pengembangan model ekowisata tersebut mengacu pada potensi dasar pariwisata
yakni dikedepankannya kelestarian alam dan budaya dari daerah tempat objek
wisata tersebut (Damanik, 2021).
Dewasa ini, terjadi
pergeseran konsep kepariwisataan dunia ke model wisata alam. Hal ini disebabkan
oleh tingkat kejenuhan wisatawan untuk mengunjungi objek-objek wisata buatan.
Kondisi ini menjadi suatu peluang bagi Indonesia untuk memanfaatkan pesona
alamnya secara maksimal untuk menarik wisatawan asing mengunjungi objek
berbasis alam dan budaya penduduk lokal. Jika negara-negara maju menawarkan
paket-paket wisata dengan kecanggihan teknologi yang ditawarkan, maka Indonesia
mempunyai potensi untuk pengembangan pariwisata yang berbasis sumber daya alam
(ekowisata) seperti halnya di Provinsi Sumatera Utara. Wisata alam sebagai
suatu bentuk rekreasi dan pariwisata yang memanfaatkan potensi sumber daya alam
dan ekosistemnya, baik dalam bentuk asli maupun setelah adanya perpaduan dengan
daya cipta manusia (Pynanjung dan Rianti, 2018).
Ekowisata adalah suatu model pengembangan wisata alam yang bertanggung jawab di daerah yang masih alami atau daerah-daerah yang dikelola secara alami dimana tujuannya selain untuk menikmati keindahan alam juga meliobatkan unsur pendidikan dan dukungan terhadap usaha konservasi serta peningkatan pendapatan masyarakat setempat. Potensi ini didukung dengan prasarana berupa jalan menuju lokasi ekowisata yang cukup baik dengan pengerasan serta sudah terdapat rencana peningkatan kualitas jalan serta dukungan pembangunan. Aktivitas berwisata merupakan salah satu pilihan utama untuk mengisi waktu luang yang dimiliki oleh setiap orang. Wisata yang memiliki potensi besar untuk dikembangkan yaitu wisata minat khusus. Wisata minat khusus adalah kegiatan wisata yang didasarkan pada keinginaan wisatawan karena memiliki minat khusus dari objek wisata atau kegiatan didaerah tersebut (Simarmata dan Triastuti, 2021).
1. 2.
Tujuan Analisis
Adapun tujuan dari
paper yang berjudul Potensi
Bisnis Kehutanan di Kawasan Obyek Wisata Alam Huta Ginjang, Kecamatan Muara,
Kabupaten Tapanuli Utara” adalah sebagai berikut:
1. Untuk
mengetahui deskripsi dari obyek wisata
alam Huta Ginjang.
2. Untuk
mengetahui karakteristik dari obyek
wisata alam Huta Ginjang.
3. Untuk
mengetahui potensi ekonomi yang dapat
dikembangkan dari Obyek Wisata Alam Huta Ginjang.
4. Untuk mengetahui ide potensi pengembangan obyek Wisata Alam Geosite Huta Ginjang.
BAB
II
ISI
2. 1. Deskripsi Objek Wisata Alam Huta Ginjang
Objek wisata adalah tempat yang dikunjungi pengunjung karena memiliki sumber daya alamiah dan buatan, seperti keindahan alam atau pegunungan, flora dan fauna pantai, taman hewan, bangunan bersejarah,monumen, kuil, tarian, atraksi dan berbagai macam budaya unik lainnya. Daya tarik wisata disebut juga sebagai suatu keunikan khas yang dimiliki suatu daerah tersebut, dan melibatkan potensi yang dimiliki untuk menarik wisatawan ke daerah tertentu untuk berlibur (Damanik, 2018).
Berasal dari Bahasa Batak 'Huta' berarti
kampung dan 'Ginjang' berarti atas, Huta Ginjang menawarkan pemandangan Danau
Toba dari ketinggian 1.555 meter di atas permukaan laut (mdpl). Huta Ginjang
adalah sebuah desa yang berada di kecamatan muara, Kabupaten tapanuli Utara
Sumatera Utara berjarak 254 Km dari ibu kota Provinsi (medan dan) 8,7 Km dari
Bandara Internasional Silangit dapat ditempuh
selama 20 menit dengan pemandangan keindahan Danau Toba yang tentu menjadi
salah satu faktor pendukung untuk kemajuan objek wisata Huta Ginjang serta
menjadi salah satu fasilitas yang memberikan peran besar untuk kemajuan
pariwisata danau toba terkhusus pariwisata Huta Ginjang. (travel.okezone.com).
Geosite Huta Ginjang merupakan bagian penting dari Taman Wisata Alam (TWA) Sijaba Huta Ginjang yang dikelola Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA). Taman seluas 500 hektar lebih ini terbagi dalam dua bagian terpisah yaitu Sijaba di Desa Sihonongan, Desa Paranginan Selatan dan Desa Lumban Barat di Kecamatan Paranginan. Bukit Gantole Huta Ginjang adalah sebuah objek wisata yang di peruntukkan untuk wisatawan yang menyukai olahraga yang menantang yakni Gantole (paralayang) pertama sekali di gunakan sebagai lokasi ajang perlombaan gantole yakni pada 18 juli 2008 sampai saat ini masih tetap di jalankan dan berskala nasional (Siregar R, 2019).
Akses menuju ke tempat ini melalui jalur darat, yaitu jalanan aspal dan dijamin pengunjung tidak akan mengalami macet. Perjalanan dari Simpang Silangit menuju tempat ini berkisar 40 menit. Untuk tiket masuk ke Geosite Huta Ginjang, pengunjung cukup membayar Rp.6.000/pengunjung dewasa, Rp.4.000/pengunjung anak- anak dan untuk parkir Rp.5.000/parkir roda 4 dan Rp.2.000/parkir roda 2. Fasilitas pendukung saat berwisata ke Huta Ginjang, berupa restoran-restoran sederhana yang menjual aneka makanan dan minuman, panggung hiburan umum, toilet, sewa teropong dan sewa mobilan matic anak-anak. Di tempat ini juga aktivitas utama paralayang dilakukan, dan pada waktu-waktu tertentu diadakan atraksi paralayang dan gantole (Tobaria.com).
2. 2.
Karakteristik Objek Wisata Alam Huta Ginjang
Desa Huta Ginjang adalah salah satu desa
yang terdapat di Kecamatan Sianjur Mula-Mula. Desa Huta Ginjang memiliki
potensi alam yang sangat baik, seperti panorama pemandangan alam, sempadan
danau yang unik, perkebunan milik masyarakat, serta kawasan hutan pegunungan
yang masih alami. Namun pemanfaatan sumber daya alam yang ada di desa tersebut
belum terealisasi secara optimal dibandingkan dengan desa lain yang ada di
Kecamatan Sianjur Mula-Mula tersebut. Hal ini tampak dari minimnya pengelolaan
sarana dan prasarana di desa ini maupun menuju desa tersebut, serta kurangnya
pemberdayaan masyarakat setempat sebagai pihak yang seharusnya berperan aktif.
Ada berbagai fasilitas yang ada di kawasan
wisata Huta Ginjang Fasilitas- fasilitas yang ada meliputi infrastruktur baik
jalan, selokan dan gorong gorong yang sudah baik dibangun serta keberadaan Toko
souvenir, Mushola, Parkir area, Rumah makan, Homestay dan Toilet. Namun dari
jumlah Toilet yang telah ada namun belum mencukupi jumlahnya dengan jumlah
wisatawan yang terus bertumbuh, lokasi parkir yang tidak terbenahi serta luas
lokasi parkir yang tidak sesuai dengan status kewajarannya, Rumah makan atau
Restaurant Halal yang belum tersedia, ditambah lagi kurang nya atraksi wisata
lainnya seperti flying fox, dan game out bond yang harusnya di bangun dengan
tujuan menambah minat dan rasa nyaman bagi para pengunjung.
Bukit doa (Taber) dan lokasi Paralayang
Gantole masih dalam satu zona lokasi yang hanya berjarak 50m dan masih
menggunakan satu fasilitas yang sama. Objek wisata yang sudah ada sejak tahun
1996 dan terus dikembangkan hingga saat ini. Bukit doa (Taber) memiliki makna
yang beragam seperti Tapanuli Bersinar dan tempat tinggi untuk berdoa, karna
kesannya kalau kita berada disana kita akan terkesan dengan keindahan alam dan
pesona danau toba yang kontras sangat luara biasa sehingga tumbuh rasa kagum
dan hasrat bersyukur serta menyiratkan doa didalamnya. Itulah alasan mengapa
tempat ini disebut dengan bukit doa dan juga ada patung tangan dengan posisi
berdoa dan umumnya digunakan sebagai lokasi untuk berdoa serta hari besar
keagamaan Kristen. Berbeda dengan bukit doa taber lokasi paralayang (Gantole)
pertama sekali di kembangkan pada tahun 2009 dan sejak itu lokasi paralayang
ini telah mejadi spot favorit bagi para pecinta olahraga ekstrtrim dan hampir
tiap tahun menjadi lokasi kegiatan paralayang bertaraf nasional, namun
keseriusan pemerintah pariwisata kabupaten belum menunjukkkan komitmen nya
untuk menggiatkan dan mejadikan kawasan pariwisata yang menarik untuk dikunjun
2. 3.
Potensi Ekonomi Dari Objek Wisata Alam Huta Ginjang
2.3.1.
Jenis-jenis potensi alam yang ada di Desa Huta Ginjang terdiri dari: Sempadan
Danau (Pinggiran Danau), Panorama Pemandangan Alam, Kebun Masyarakat, Serta, Kawasan Hutan
Pengunungan.
A.Sempadan Danau (Pinggiran Danau)
Desa Huta Ginjang memiliki batas wilayah yang tepat berada di pinggiran Danau Toba. Batas wilayah ini berada di Dusun III Pandulangan, Desa Huta Ginjang, Kecamatan Sianjur Mula-Mula. Sempadan danau ini sangat cocok dijadikan menjadi daerah tujuan wisata karena pinggiran danau ini masih sangat terjaga keasliannya oleh masyarakat yang bermukim disekitar danau ini.
Pinggiran
danau Dusun Pandulangan yang sering disebut oleh masyarakat sekitar sebagai
Pantai Pandulangan memiliki panjang ± 2 km yang direncanakan untuk pengembangan
wisata air (perahu kayu dan sepeda air) serta sebagai retirement village
(wisata bagi kalangan usia nonproduktif).
B. Panorama
Pemandangan Alam
Keberadaan
Desa Huta Ginjang memiliki posisi yang sangat strategis. Hal ini dikarenakan
desa ini berada di punggung Gunung Pusuk Buhit, sehingga memberikan sudut
pemandangan alam yang sangat baik jika kita melihat dari desa ini mengarah ke
daerah sekitarnya. Berikut ini adalah gambar beberapa spot (titik) pengambilan
panorama alam di Desa Huta Ginjang
Untuk
mendukung daya tarik tersebut maka pembangunan menara pandang merupakan salah
satu upaya yang harus diperhatikan. Pembuatan menara pandang tersebut dapat
direalisasikan di beberapa titik guna menunjang kepuasan pengunjung dalam
menikmati pemandangan alam yang ada
C. Perkebunan
Jenis
kebun yang ada di Desa Huta Ginjang meliputi kebun kopi, dan kakao, bisa
ditemui di kanan dan kiri jalan menuju perkampungan, hal ini dapat menjadi
atraksi tersendiri bagi para wisatawan yang berkunjung. Dengan melintasi jalan
yang tepat berada disisi jalan maka wisatawan yang berkunjung dapat menikmati
suasana kebun dengan duduk di pondok-pondok petani dengan suguhan minuman kopi
hasil perkebunan milik masyarakat
umberdaya
kehutanan tersebut, diuraikan dari wawancara dgn pengelola, sumber literatur
dll
D. Kawasan
Hutan Pegunungan
Desa Huta Ginjang berbatasan dengan Gunung
Pusuk Buhit, dimana gunung ini merupakan gunung tertinggi di Pulau Samosir.
Kawasan puncak Gunung Pusuk Buhit ini memiliki kawasan hutan lindung seluas ±
50 Ha. Sesuai dengan penetapan batas wilayahnya, Desa Huta Ginjang mencakup 10
Ha kawasan lindung Gunung Pusuk Buhit tersebut. Dalam aspek wisata alam, hutan
yang ada di Gunung Pusuk Buhit dapat dimanfaatkan untuk kegiatan tracking dan
hiking. Tracking ini merupakan kegiatan menjelahi hutan melalui setapak dengan
jalur-jalur yang sudah ditentukan. Sedangkan hiking adalah kegiatan pendakian
yang juga dilakukan di dalam hutan. Keberadaan hutan pegunungan ini merupakan
salah satu potensi alam yang dapat dikembangkan untuk menunjang perwujudan Desa
Ekowisata Huta Ginjang.
2.3. 2.
Potensi Sosial Budaya
Potensi sosial budaya yang ada di Desa
Huta Ginjang yang memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai daya tarik atau
objek wisata yaitu berupa kesenian tradisional masyarakat setempat. Adapun
kesenian tersebut adalah; Uning-uningan dan beberapa jenis tarian tradisional.
Uning-uningan merupakan kesenian tradisional masyarakat batak. Uning-uningan
ini digunakan sebagai alat komunikasi antara manusia dengan Sang Pencipta (Mula
Jadi na Bolon). Kesenian ini terdiri dari unsur musik dimana alat musiknya
merupakan alat musik tertua dan asli dari masyarakat Batak Toba.
Selain Uning-uningan, Desa Huta Ginjang
juga memiliki kesenian seperti tari tor-tor naposo untuk kalangan muda, Joting
dan Tumbas (tarian dan nyanyian pada saat bulan purnama, usai panen raya yang
dilakukan pada sebuah lapangan atau dapat pula dilakukan di atas solu (perahu)
di daerah pesisir Danau Toba). Disamping potensi kesenian, Desa Huta Ginjang
juga mempunyai potensi sosial budaya, yaitu adanya rumah adat batak yang masih
dijadikan masyarakat sebagai tempat tinggal. Berdasarkan tata letak dan arah,
bangunan-bangunan tersebut terletak sesuai dengan konsepsi tata ruang
masyarakat setempat, seperti bangunan sebagai tempat tinggal diletakkan pada
tempat yang mengarah menghadap gunung atau kearah Selatan (dalam hal ini Gunung
Pusuk Buhit), hal ini mencerminkan bahwa gunung adalah dianggap tempat yang
paling tinggi dan suci diantara tempat-tempat lainnya serta gunung merupakan
tempat beristananya para raja batak terdahulu
Rumah adat batak ini sangat baik untuk
dilestarikan sebagai salah satu daya tarik pada atraksi ekowisata di desa ini.
Keberadaan rumah adat ini, juga merupakan hal unik yang dapat dijual kepada
wisatawan karena bila ditinjau dari sejarah pembuatan rumah adat tersebut
banyak hal-hal yang unik dapat ditemukan, seperti bahan kayu yang digunakan
adalah kayu dengan ukuran yang sangat besar, ornamen tulisan (aksara batak)
yang dipahat pada setiap sisi bangunan serta bagian-bagian rumah lainnya yang
jarang ditemui pada zaman modern ini.
2. 4.
Ide Potensi Pengembangan Objek Wisata Alam Geosite Huta
Ginjang
Pengembangan ekowisata ini dapat terwujud
sesuai dengan kondisi alam, daerah, serta harapan dan pandangan dari masyarakat
apabila dalam pelaksanaannya seluruh lapisan masyarakat turut serta dalam
pelaksanaan program pengembangan ekowisata tersebut. Disamping hal tersebut rencana pengembangan ekowisata ini
nantinya diharapkan dapat memberikan pendapatan bagi desa ini sehingga tingkat
kesejahteraan masyarakat akan meningkat. Dalam pengembangan ekowisata, kunci
pokok yang harus diperhatikan adalah tetap terjaganya kelestarian fungsi
lingkungan. Disamping itu, keberadaan tradisi adat-istiadat dan budaya juga
memegang peranan penting sebagai penunjang dalam pengembangan pariwisata itu
sendiri, sehingga harus tetap dilestarikan keberadaannya
Adapun pengembangan pariwiwsata Huta
Ginjang dimulai dari Fasilitas di kawasan pariwisata Huta Ginjang untuk saat
ini sedang terus dikembangkan baik mulai dari pengadaan kawasan, pembangunan
zonasi wisata lahan parkir, rumah ibadah , restoran ,toko souvenir, teropong,
infrastruktur dan Sumberdaya manusia serta ruang informasi. Fasilitas yang ada
untuk saat ini memang sudah tergolong lengkap namun jumlah nya masih kurang dan
masih butuh penambahan unit dan pengawalan yang sangat baik dari semua kalangan
yang ikut ambil bagian dalam pengelolaan kawasan pariwisata Huta Ginjang agar
dapat meningkatkan daya saing terhadap objek wisata yang sudah duluan dikenal
oleh orang di daerah danau toba.
Seperti yang kita lihat obejek wisata alam
di Huta Ginjang ini sangat memiliki potensi yang sangat besar. Paralayang
merupakan objek wisata yang sekaligus merupakan olahraga yang mengandung unsur
rekreatif. Sehingga wisatawan dapat melakukan dua kegiatan sekaligus yaitu
olahraga dan rekreasi. Di Huta Ginjang , pengunjung bisa mencoba olahraga ini,
yaitu di Wisata Paralayang dengan ditemani oleh para pemandu. Keistimewaan dalam objek wisata Paralayang Huta
Ginjang ini tidak hanya dari keberadaan landasan terbang paralayang dan fasilitas
olahraga ini saja, melainkan juga ada keistimewaan lainnya. Salah satunya
adalah panorama yang indah dari danau Toba. Selain itu karena Huta Ginjang itu
sendiri berada di ketinggian, maka pemandangan pegunungan yang hijau akan
terlihat sangat menyejukkan mata.
Di luar negeri wisata paralayang ini sangat diminati namun sangat disayangkan di obyek wisata Huta Ginjang ini masih kurang dilirik oleh para wisatawan. Atraksi paralayang ini juga dilakukan pada saat-saat tertentu kadang kala sekali dalam seminggu dan tergantung pada situasi dan kondisinya. Pengembangan paralayang ini sangat diperlukan salah satu idenya yaitu karena jarang ada atraksi wisata seperti ini di Indonesia. Bila atraksi ini lebih sering dibuat maka akan memberi Dampak positif yaitu dapat meningkatkan pemasukan pajak bagi pemerintah daerah, meningkatkan pendapatan masyarakat di sekitar tempat wisata, lebih tereksplornya keindahan alam, adanya wisata baru di sekitar Paralayang juga menjadikan Huta Ginjang lebih terkenal akan wisatanya.
Selain itu ada juga pacuan kuda yang juga sama dapat disaksikan dan dinikmati oleh pengunjung pada saat- saat tertentu. Pada saat saya ke tempat tersebut pacuan kuda tersebut tidak ditampilkan sehingga tidak dapat didokumentasikan.
Ini adalah dokumentasi saudara saya saat tahun
lalu mengunjungi wisata alam geosite huta ginjang dan kebetulan saat itu pacuan
kuda ini ada karena atraksi ini hanya dilakukan pada saat-saat tertentu saja.
Untuk lebih memperkenalkan objek wisata
Huta Ginjang ini kita sebagai pengunjung dan masyarakat lokal dapat
mempromosikannya melalui media sosial seperti YouTube, Instagram, Facebook, TikTok,
dan media lainnya dengan harapan tempat ini bisa viral sehingga menarik mintat
lebih banyak wisatawan lokal maupun asing.
BAB
III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
1. Secara
umum potensi pariwisata di Kab Tapanuli Utara sangat lah besar dengan wilayah
yang membentang luas ditambah keanegaragaman kekayaan alam maupun budaya yang
sangat unik menjadikan tapanuli utara menjadi salah satu daerah tujuan wisata
pavorit di Sumatera utara, di tambah dengan keindahan alam danau toba di
Kecamatan muara yang saat ini telah di kenal dunia, terkhusus daerah wisata di
Desa Huta Ginjang kecamatan muara Kabupaten Tapanuli utara yang banyak
melakukan ivent internasional seperti Paralayang yang di ikuti oleh seluruh
Atlit dari semua negara di bagian Asia pasifik
2. Berasal
dari Bahasa Batak 'Huta' berarti kampung dan 'Ginjang' berarti atas, Huta
Ginjang menawarkan pemandangan Danau Toba dari ketinggian 1.555 meter di atas
permukaan laut (mdpl). Huta Ginjang adalah sebuah desa yang berada di kecamatan
muara,
3. Jenis-jenis
potensi alam yang ada di Desa Huta Ginjang terdiri dari: Sempadan Danau,
Panorama Pemandangan Alam, Kebun Masyarakat, Serta, Kawasan Hutan Pengunungan.
Selain itu ada Atraksi Paralayang, Pacuan kuda, dan Bukit doa (Taber).
4. Ada
berbagai fasilitas yang ada di kawasan wisata Huta Ginjang Fasilitas- fasilitas
yang ada meliputi infrastruktur baik jalan, selokan dan gorong gorong yang
sudah baik dibangun serta keberadaan Toko souvenir, Mushola, Parkir area, Rumah
makan, Homestay dan Toilet.
5. Untuk
lebih memperkenalkan objek wisata Huta Ginjang ini kita sebagai pengunjung dan
masyarakat lokal dapat mempromosikannya melalui media sosial seperti YouTube,
Instagram, Facebook, TikTok, dan media lainnya dengan harapan tempat ini bisa
viral sehingga menarik mintat lebih banyak wisatawan lokal maupun asing.
3.2 Saran
Sebaiknya pemerintah lebih memberi perhatian kepada objek wisata alam di Huta Ginjang ini sehingga lebih banyak menarik wisatawan baik lokal maupun mancanegara dan juga sebaiknya masyarakat lokal lebih giat mepromosikan tempat ini sehingga nantinya bila semakin terkenal akan membuka lebih banyak lapangan kerja dan menambah pendapatan masyarakat sekitar tempat wisata ala mini.
DAFTAR PUSTAKA
Damanik CGB. 2018.
Fasilitas Objek Wisata Bukit Indah Simarjarunjung Kabupaten Simalungun Provinsi
Sumatera Utara. JOM FISIP, 5(2):1-11.
Damanik SE. 2021. Kawasan
Wisata Alam Simarjarunjung Sebagai Objek Wisata dan Nilai Tambah Pendapatan
Kabupaten Simalungun. Jurnal JGMI, 1(1):12-21.
Pynanjung PA, Rianti R.
2018. Dampak Pengembangan Ekowisata Terhadap Kesejahteraan Masyarakat di
Kabupaten Bengkayang : Studi Kasus Kawasan Ekowisata Riam Pangar. Jurnal Nasional
Pariwisata, 10(1):22-28.
Simarmata
MMT, Triasturi. 2021. Identifikasi Potensi Pemanfaatan Ekowisata dan Jasa Lingkungan
Kabupaten Samosir. Jurnal Akar, 3(1): 17-31.
Siregar R. 2019. Pengembangan Fasilitas di Kawasan
Pariwisata Huta Ginjang Kabupaten Tapanuli Utara Sebagai Destinasi Unggulan. Skripsi.
Universitas Sumatera Utara. Medan.
https://tobaria.com/huta-ginjang-tempat-menyaksikan-keindahan-lembah-muara-dan-atraksi-paralayang/



.jpeg)

.jpeg)





.jpeg)
